Sabtu, 28 Mei 2011

Nasihat Imam Ali Bin ABi thalib

Hidupkanlah hati dan pikiranmu dengan menerima dan memperhatikan nasehat. Jadikanlah kesalehan sebagai penolong untuk menghilangkan keinginan- keinginan nafsumu yang tidak terkendali. Binalah budi pekertimu dengan pertolongan keyakinan yang tulus pada agama dan Allah.

Taklukkanlah keinginan-keinginan pribadimu, kesesatan hatimu dan kebandelanmu dengan senantiasa mengingat kematian. Sadarilah akan kefanaan hidup dan segala kenikmatannya. Insyafilah kenyataan dari kemalangan dan kesengsaraan yang senantiasa menimpamu serta
perubahan keadaan dan waktu. Ambillah pelajaran dari sejarah kehidupan orang-orang terdahulu.

Jangan membicarakan apa yang tidak engkau ketahui. Jangan berspekulasi dan memberi pendapat atas apa yang kau tidak berada dalam kedudukan untuk memberi pendapat tentangnya. Berhentilah jika khawatir akan tersesat. Adalah lebih baik berhenti disaat kebingungan daripada maju merambah bahaya-bahaya yang tak tentu dan resiko-resiko yang tak terduga.

Berjuanglah dan berjihadlah demi mempertahankan dan demi tegaknya kalimat Allah. Jangan takut dan khawatir bahwa orang-orang akan mengejekmu, mengecam tindakanmu dan memfitnahmu. Janganlah gentar dan ragu membela kebenaran dan keadilan. Hadapilah dengan sabar
penderitaan dan kesengsaraan yang menimpa. Hadapilah dengan berani rintangan yang menghalangi ketika engkau berupaya mempertahankannya. Sokonglah kebenaran dan keadilan setiap kali engkau menjumpainya.

Binalah kesabaran dalam menghadapi segala kesulitan, bencana dan kesengsaraan. Kesabaran merupakan salah satu diantara moral yang tertinggi dan akhlak yang mulia, dan merupakan suatu kebiasaan yang terbaik yang dapat dibina. Bersandar dirilah kepada Allah dan mintalah senantiasa perlindunganNya dari segala bencana dan penderitaan. Jangan mengharap pertolongan dan perlindungan dari siapapun kecuali Allah.

Ketahuilah bahwa sombong dan bangga diri adalah bentuk-bentuk kebodohan dan berbahaya bagi jiwa dan pikiran. Oleh karena itu, jalanilah kehidupan yang seimbang dan berusahalah untuk berlaku jujur dan tulus. Apabila mendapat bimbingan dari Allah untuk mencapai apa-apa yang diinginkan, maka janganlah berbangga dengan perolehan itu. Tunduk dan merendahlah dihadapan Allah dan sadarlah bahwa keberhasilan itu semata-mata karena kasih dan karunia-Nya.

(Nasehat dari Ali bin Abi Thalib Wafat 21 Ramadlan 40 H ,10 Oktober 680).

Wa min Allah at Tawfiq

Al HAbib Ali bin Abdurahman Al Habsyi


Silsilahnya adalah : Al-Habib Ali bin Abdurahman bin Abdullah bin Muhammad bin Husein bin Abdurahman bin Husein bin Abdurahman bin Hadi bin Ahmad ( Shohib Syi’ib ) Al-Habsyi. Beliau dilahirkan di Kwitang pada hari Minggu tanggal 20 Jumadil Akhir 1286 Hijriyyah bertepatan dengan tanggal 20 April 1870 M. Ayahnya, Al-Habib Abdurahman Alhabsyi kelahiran Semarang kemudian pindah ke Jakarta dan menikah dengan Hajjah Salmah seorang puteri Betawi Asli yang berasal dari Jatinegara. Al-Habib Abdurahman Alhabsyi wafat di Jakarta pada tahun 1296 H dan dikuburkan di Cikini, sedangkan Hajjah Salmah wafat tanggal 2 Rajab 1351 Hijriyyah, dikuburkan di Tanah Abang .
Setelah Al-Habib Ali berumur 10 tahun ayahnya meninggal dunia, tidak lama kemudian Al-Habib Ali dikirim belajar ke Hadramaut sesuai wasiat ayahandanya, di Hadhramaut berguru kepada para ulama dan auliya', diantaranya :
1.Al-Habib Ali bin Muhammad Alhabsyi
2.Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-Atthas
3.Al-Habib Hasan bin Ahmad Alaydrus
4.Al-Habib Zein bin Alwi Ba’bud
5.Assyekh Hasan bin Awadh bin Mukhaddam
Selain itu Al-Habib Ali menghadiri majelis ilmu Al-Habib Abdurahman bin Muhammad Al-Masyhur mufti Al-Diyar Al-Hadramiyah, Al-Habib Umar bin Idrus bin Alwi Alaydrus serta Al-Habib Alwi bin Abdurahman Al-Masyhur. Pada tahun 1300 H. menghadiri majelis Maulid yang diselenggarakan oleh Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi. Pada saat itu hadir pula Al-Habib Al-Quthub Ahmad bin Muhammad Al-Muhdhor beserta anak-anaknya.
Pada tahun 1303 H., Al-Habib Ali Pulang ke tanah air setelah bermukim selama 6 tahun. Ketika berada di Indonesia, umur beliau 16 tahun dan melanjutkan belajar kepada :
1.Al-Habib Usman bin Abdullah bin Yahya
2.K.H.Abdul Hamid, Jatinegara
3.K.H.Mujtaba bin Ahmad, Jatinegara
4.Al-Habib Muhammad bin Alwi Al-Shulaibiyah Alaydrus
5.Al-Habib Salim bin Abdurahman Al-Jufri
6.Al-Habib Husin bin Muchsin Al-Atthas
7.Al-Habib Abdullah bin Muchsin Al-Atthas, Bogor
8.Al-Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Al-Atthas, Pekalongan
9.Al-Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhor, Bondowoso
10.Al-Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi
11.Al-Habib Ahmad bin Muchsin Al-Hadar, Bangil
Setelah usia mencapai 20 tahun Al-Habib Ali menikah dengan Hababah Aisyah keluarga Al-Saqqaf dari Banjarmasin. Pada tahun 1311 H., berangkat Ke Mekah untuk menunaikan ibadah Haji serta menuntut ilmu kepada :
1.Syech Muhammad Said Babshil
2.Al-Habib Umar bin Muhammad Syatha’
3.Musyaikh Umar bin Abi Bakar Bajunaid
4.Al-Habib Abdullah bin Muhammad Sholih Al-Zawawi
5.Syekh Umar Hamdan Al-Maghribi
Di Kota Madinah Al-Munawwaroh belajar kepada : Habib Ali bin Ali Alhabsyi, Habib Abdullah Jamalullail ( Syekh Al-Asaadah ) dan Syekh Sulaiman bin Muhammad Al-Azab, anak dari pengarang kitab Maulid Azab.
Harumnya nama Al-Habib Ali menjadi pembicaraan ramai. Kemasyhurannya tersebut sampai dibuatkan syair oleh beberapa pujangga di antaranya : Al-Habib Muhamnmad Al-Muhdor, Sayyid Ahmad Assaqaf, Syekh Fadhil Irfan, Soleh bin Ali Al-Hamid, Toha bin Abu Bakar Assaqaf dan Syekh Yusuf bin Ismail Al-Nabhani pun memasukkan nama Habib Ali dalam kitabnya yang bernama Jami’ Karamat Al-Auliya juz 2 halaman 362.
Al-habib Ali bin Abdurahman Al-Habsyi wafat pada hari Minggu 20 Rajab 1388 H. bertepatan tanggal 13 Oktober 1968 M. dalam usia 102 tahun di makamkan di Masjid Arriyadh yang dipimpinnya sejak ia masih muda, ribuan orang berbondong-bondong melakukan takziah ke kediamannya di Kwitang, Jakarta Pusat, yang sekaligus menjadi majelis ta’lim tempat ia mengajar.
Sumber dari Buku Menelusuri Silisilah Suci Bani Alawi–Idrus Alwi Almasyhur

Mengenal Jin

” Sesungguhnya jin dan para pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.” (Al Quran, surat Al A’raf : 27)

Makhluk ciptaan Allah dapat dibedakan antara yang bernyawa dan tak bernyawa. Di antara yang bernyawa adalah jin. Kata jin menurut bahasa (Arab) berasal dari kata ijtinan yang berarti istitar (tersembunyi). Jadi jin menurut bahasa berarti sesuatu yang tersembunyi dan halus, sedangkan setan ialah setiap yang durhaka dari golongan jin, manusia atau hewan. Iblis adalah gembongnya setan.

Apakah Jin itu?

Jin dinamakan jin karena wujudnya yang tersembunyi dari pandangan mata manusia. Firman Allah, “Sesungguhnya ia (jin) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.”(QS. Al A’raf 27).

Kalau pun ada manusia yang dapat melihat jin, jin yang dilihatnya itu adalah yang sedang menjelma dalam wujud makhkuk yang dapat dilihat mata manusia biasa. Dalam sebuah hadis, Nabi SAW bersabda, “Setan memperlihatkan wujud (diri)nya ketika aku shalat, namun atas pertolongan Allah, aku dapat mencekiknya hingga kurasakan dingin air liurnya di tanganku. Kalau bukan karena adanya doa saudaraku Nabi Sulaiman, pasti kubunuh dia.”(HR Al Bukhari).
Asal kejadian Jin

Kalau manusia pertama diciptakan dari tanah, maka jin diciptakan dari api yang sangat panas. Allah berfirman, “Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.” (QS. Al Hijr: 27). “Dan Kami telah menciptakan jin dari nyala api.” (QS. Ar Rahman : 15)

Rasulullah bersabda, “Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api dan Adam diciptakan dari apa yang disifatkan (diceritakan) kepada kamu [yaitu dari air sperma dan ovum].” (HR Muslim dari Aisyah di dalam kitab Az- Zuhd dan Ahmad di dalam Al Musnad).

Bagaimana wujud api yang merupakan asal kejadian jin, Al Quran tidak menjelaskan secara rinci, dan Allah pun tidak mewajibkan kita untuk meneliti-nya secara detail. Ibnu Abbas, Ikrimah, Mujahid dan Adhdhak berpendapat bahwa yang dimaksud “api yang sangat panas” (nar al-samum) atau “nyala api” (nar) dalam firman Allah di atas ialah “api murni”. Ibnu Abbas pernah pula mengartikannya “bara api”, seperti dikutip dalam Tafsir Ibnu Katsir.
Mengubah bentuk

Setiap makhluk diberi Allah kekhususan atau keistimewaan tersendiri. Salah satu kekhususan jin ialah dapat mengubah bentuk. Misalnya jin kafir (setan) pernah menampakkan diri dalam wujud orang tua kepada kaum Quraisy sebanyak dua kali. Pertama, ketika kaum Quraisy berkonspirasi untuk membunuh Nabi SAW di Makkah. Kedua, dalam Perang Badr pada tahun kedua Hijriah, seperti diungkapkan Allah di dalam surat Al Anfal: 48.
Apakah jin juga mati?

Jin beranakpinakdan berkembang biak. Allah memperingatkan manusia agar tidak terkecoh menjadikan iblis (yang berasal dari golongan jin) dan keturunan-keturunannya sebagai pemimpin sebab mereka telah mendurhakai perintah Allah (QS. Al Kahfi: 50).

Banyak orang menganggap bahwa jin bisa hidup terus dan tidak pernah mati, namun sebenarnya ada hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, di mana Nabi SAW berdoa: “Anta al-hayyu alladzi la yamutu, wa al-jinnu wa al-insu yamutuna - Ya Allah, Engkau hidup tidak mati, sedangkan jin dan manusia mati.” (Bukhari: 7383, Muslim : 717)
Tempat-tempat Jin

Banyak perbedaan antara manusia dengan jin, namun persamaannya juga ada, di antaranya sama-sama menghuni bumi. Bahkan jin telah mendiami bumi sebelum adanya manusia dan kemudian jin juga bisa tinggal bersama manusia di rumah manusia, tidur di ranjang dan makan bersama manusia. Tempat yang paling disenangi jin adalah WC, tempat manusia membuka aurat. Agar aurat kita terhalang dari pandangan jin ketika kita masuk ke dalam WC, hendaknya kita berdoa yang artinya, “Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari (gangguan) setan laki-laki dan setan perempuan.” (HR At-Turmudzi).

Setan suka berdiam di kubur dan di tempat sampah. Apa sebabnya, Quran sengaja tak menjelaskan secara rinci. Mungkin karena kuburan sering dijadikan sebagai tempat bermeditasi oleh tukang sihir (paranormal). Nabi SAW melarang kita tidur menyerupai setan. Setan tidur di atas perutnya (tengkurap) dan bertelanjang. Manusia yang tidur dalam keadaan bertelanjang menarik perhatian setan untuk mempermainkan auratnya.
Setan selalu mendampingi manusia

Sudah menjadi komitmen setan akan senantiasa menggoda manusia agar durhaka kepada Allah. Oleh karena itu setan terus menerus mengincar manusia, setiap saat menyertai manusia sehingga setan itu disebut pula sebagai qarin bagi manusia, artinya “yang menyertai” manusia. Setiap manusia disertai setan yang selalu memperdayakannya, bahkan manusia dan qarin-nya akan bersama-sama pada hari berhisab nanti. Allah berfirman, artinya: “Yang menyertai dia (qarin-nya) berkata (pula): “Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkannya tetapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh.” (QS. Qaf: 27).

Ihya Ullumudin

Keutamaan Ilmu Pengetahuan

Di dalam al-Quran al-Karim terdapat banyak sekali ayat-ayat yang menunjukkan kepada keutamaannya ilmu pengetahuan itu. Di antaranya ialah: “Allah telah menyaksikan bahawasanya tiada Tuhan melainkan Dia jua, begitu pula para Malaikat dan para ahli ilmu pengetahuan turut menyaksikan sama, iaitu Tuhan yang berdiri di atas keadilan.” (ali-Imran: 18)

Perhatikanlah pada ayat yang tersebut di atas itu, bagaimana Allah s.w.t. telah memulakan penyaksian itu dengan diriNya sendiri, keduanya dengan para Malaikat dan sesudah itu dengan para ahli ilmu pengetahuan. Itu saja sudah cukup untuk membuktikan, betapa tingginya keutamaan ilmu pengetahuan dan kelebihannya.



Allah berfirman pula:
“Allah telah mengangkat orang-orang yang beriman dari golongan kamu, dan begitu pula orang-orang yang dikurniai ilmu pengetahuan beberapa darjat.” (al-Mujadalah: 11)

“Katakanlah: Tiada serupa orang-orang yang berilmu pengetahuan dengan orang-orang yang tiada berilmu pengetahuan.” (az-Zumar: 9)

“Hanyasaja orang yang takut kepada Allah dari golongan hamba-hambaNya itu, ialah orang-orang yang berilmu pengetahuan.” (Fatir: 28)

“Andaikata mereka mengembalikannya (berita itu) kepada Rasul dan kepada orang-orang yang memegang urusan pemerintahan diantara mereka, tentulah halnya telah dimengerti oleh orang-orang yang menelitinya dalam golongan mereka itu”. (an-Nisa’: 83).

Jadi hukum mengenai perkara-perkara yang berlaku itu harus dikembalikan kepada kebijaksanaan orang-orang yang berilmu pengetahuan, kerana martabat mereka ditingkatkan dengan martabat para Nabi dalam menyingkap hukum-hukum Allah s.w.t.



Adapun Hadis-hadis yang berkenaan dengan keutamaan ilmu pengetahuan ada banyak juga, seperti:



"Siapa yang dikehendaki baik oleh Allah s.w.t., maka Allah akan meluaskan pengetahuannya dalam hukum-hukum agama dan akan diilhamkanNya petunjuk di dalamnya"



“Para ulama itu adalah warisan para Nabi”.

Tentulah tiada martabat yang lebih tinggi dari martabat kenabian, dan tiada kemuliaan yang lebih utama dari kemuliaan mewarisi martabat itu.

Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Apabila datang kepadaku satu hari, sedang pada hari itu aku tiada bertambah ilmu pengetahuan untuk mendekatkan diriku kepada Allah azzawajalia, maka tiada akan diberkati bagiku terbitnya matahari hari itu.”

Sabda Rasulullah s.a.w. dalam menentukan kelebihan ilmu pengetahuan atas segala rupa ibadat dan penyaksian, katanya:



“Keutamaan seorang yang berilmu pengetahuan ke atas seorang yang banyak ibadatnya, laksana keutamaanku ke atas serendah-rendah orang dari golongan sahabatku.”

Cubalah perhatikan, betapa itmu pengetahuan itu dipersamakan seiring dengan darjat kenabian, dan betapa pula direndahkan martabat sesuatu amalan yang sunyi dari ilmu pengetahuan, sekalipun orang yang beribadat itu cukup mengetahui dengan ibadat yang ia lakukan itu sehari-harian, kerana kiranya ibadat itu ditunaikan tanpa ilmu pengetahuan, tentulah ianya tidak boleh dinamakan ibadat.

Rasulullah s.a.w. bersabda lagi:



“Kelebihan seorang alim atas seorang 'abid, laksana kelebihan bulan purnama ke atas seluruh bintang-gemintang.”

Di antara wasiat Luqman al-Hakim terhadap anaknya ialah;



Wahai anakku! Pergauilah para alim-ulama dan rapatilah mereka dengan kedua lututmu, sebab Allah s.w.t. menghidupkan hati dengan nur (cahaya) hikmat, sebagaimana Dia menghidupkan bumi dengan hujan lebat dari langit.


Keutamaan belajar



Adapun ayat-ayat al-Quran yang berhubung dengan keutamaan belajar itu, di antaranya ialah:



“Mengapa tidak ada sekelompok pun dari setiap golongan mereka itu yang berangkat untuk menambah ilmu pengetahuan agama.” (at-Taubah: 122)

“Maka tanyakanlah para ahli ilmu pengetahuan, kiranya kamu tiada mengerti.” (an-Nahal: 43)

Sabda Rasulullah s.a.w.:



“Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu pengetahuan, maka Allah s.w.t. akan melorongkan baginya jalan ke syurga.”



“Andaikata anda berangkat untuk mempelajari suatu bab dari ilmu pemgetahuan, adalah lebih utama dari anda bersembahyang seratus rakaat.”



“Menuntut ilmu adalah wajib di atas setiap orang Muslim.”

Abu Darda’ berkata:



"Kiranya saya dapat mempelajari suatu masalah, itu adalah lebih saya cinta daripada saya bangun beribadat sepanjang malam."

"Orang alim dan orang yang menuntut ilmu itu, adalah dua orang yang berkongsi dalam kebaikan. Sementara orang-orang selain keduanya adalah sesia belaka. Tiada bangun sama sekali.

Iman Syafi’i.r.a. berkata pula:



"Menuntut ilmu itu lebih utama dari sembahyang sunnat."

Berkata Fatah al-Maushili rahimahullah:



"Bukankah si pesakit itu bila tidak diberikan makan atau minum ubat, ia akan mati!"

Orang ramai menjawab:



"Benar katamu!"

Dia berkata pula:



"Demikian pulalah sifatnya hati, kiranya ia tidak diberikan hikmat dan ilmu pengetahuan selama tiga hari saja, akan matilah ia."

Sungguh tepat sekali ucapan Fatah al-Maushili itu, kerana makanan hati ialah ilmu pengetahuan dan hikmat, dan dengan kedua benda itulah ia boleh hidup, sebagaimana tubuh badan itu hidup dengan makanan, Seorang yang tiada mempunyai ilmu pengetahuan, hatinya menjadi sakit dan kematiannya sudah pasti. Akan tetapi ia tidak akan merasakan yang demikian itu, kerana kecintaannya kepada dunia dan kesibukannya tentang dunia itu akan melenyapkan perasaannya. Kita berlindung dengan Allah pada hari di mana segala tabir akan tersingkap. Sesungguhnya manusia itu sedang nyenyak dalam tidurnya, nanti ia bila mati akan tersedar.



Berkata Ibnu Mas’ud r.a.:



"Hendaklah kamu mencari ilmu pengetahuan sebelum ianya terangkat, dan terangkatnya ilmu pengetahuan itu dengan kematian ahli-ahlinya. Seseorang kamu tiada dilahirkan sebagai orang yang sudah pandai. Jadi ilmu pengetahuan itu akan dicapai hanya dengan belajar."


Keutamaan mengajar



Ayat-ayat al-Quran mengenai keutamaan mengajar ini, ialah di antaranya firman Allah Ta’ala:



“Hendaklah mereka memberikan peringatan kepada kaumnya, apabila telah kembali kepada mereka nanti, moga-moga mereka berhati-hati.” (at-Taubah: 122)

Maksudnya ialah memperingatkan mereka itu dengan pelajaran dan petunjuk yang diperolehinya.



“Dan di waktu Tuhan mengambil janji orang-orang yang diberikan olehnya kitab; iaitu hendaklah kamu sekalian menerangkan perkara-perkara yang tersebut di dalam kitab itu, dan jangan sampai kamu menyembunyikannya.” (ali-Imran: 187)

Maksudnya ialah mewajibkan orang yang berilmu itu menyebarkan ilmunya dengan mengajar.



“Ada sebahagian dari mereka itu yang menyembunyikan kebenaran, sedangkan mereka itu mengetahui (hukumnya).” (al-Baqarah: 146)

Maksudnya menghukumkan salah atau haram orang yang menyembunyikan ilmu pengetahuanya, sebagaimana dihukumkan haram pula orang yang menyembunyikan penyaksiannya.



Firman Allah Ta’ala:



“Barangsiapa menyembunyikannya (penyaksian), maka berdosalah hatinya.” (al-Baqarah: 283)



“Siapakah orang yang lebih baik ucapannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan berbuat kebaikan.” (Fushshilat: 32)

Allah berfirman lagi:



“Serulah ke jalan Tuhanmu dengan kebijaksanaan dan nasihat yang baik.” (an-Nahal: 125)



“Dan dia mengajarkan kepada mereka (kandungan) kitab dan kebijaksanaan.” (al-Baqarah: 151)



Adapun Hadis-hadis yang menunjukkan tentang keutamaan mengajar, umpamanya pesanan baginda Rasulullah s.a.w. ketika mengirim Mu’az ke Yaman, bunyinya:



“Andaikata Allah s.w.t memberikan hidayat kepada seorang dari hasil usahamu, adalah lebih baik bagimu dari dunia dan seisinya.”

Sabda Rasulullah s.a.w.



“Sesiapa yang mengetahui sesuatu ilmu lalu disembunyikannya, niscaya di Hari Kiamat nanti, ia akan dikekang oleh Allah s.w.t. dengan tali kekang dari api neraka.”

“Sesungguhnya Allah s.w.t. dan para MalaikatNya, begitu juga penghuni langit dan buminya, sehingga semut yang berada di lubangnya dan ikan yang di lautan, semuanya memohon rahmat bagi orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang ramai.”

“Apabila seorang anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalannya melainkan dalam tiga perkara: iaitu sedekah jariah (yang berterusan), ilmu yang dimanfaatkan dan anak yang saleh yang mendoakan baginya.”



“Orang yang menunjuk ke jalan kebaikan sama saperti mengerjakan baginya.”

Ada satu sabda lagi berbunyi: " Moga-moga Allah mencucurkan rahmatNya ke atas Khalifah-khalifahku." Baginda lalu ditanya: " Siapakah mereka khalifah-khalifahmu?" Rasulullah s.a.w. bersabda lagi: " mereka itu adalah orang-orang yang menghidupkan sunnatku serta mengajarkannya kepada hamba-hamba Allah."



Dari atsar pula, apa yang diriwayatkan dari Mua’z, katanya: " Pelajarilah ilmu pengetahuan, sebab mempelajarinya kerana Allah adalah tanda takut kepadaNya, menuntutnya adalah ibadat, menelaahnya adalah tasbih, mencarinya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang belum mengetahui adalah sedekah, memberikannya kepada ahlinya adalah kebaktian. Dialah kawan dalam masa kesepian dan teman dalam masa kesunyian. Dialah petunjuk jalan kepada agama, dan pendorong kesabaran dalam masa kepayahan dan kesempatan."



Allah mengangkat setengah-setengah kamu karena ilmu pengetahuannya, maka dijadikannya pemimpin, penghulu dan penunjuk jalan kebaikan yang diikut oleh orang ramai. Orang yang berilmu pengetahuan itu juga menjadi model utama dalam amalan kebajikan, dicontohi segala jejak-langkahnya, dan dituruti segala kelakuannya.



Dengan ilmu pengetahuan seorang hamba itu akan sampai ke peringkat orang-orang yang terpuji ketaatannya dan tertinggi kedudukannya. Memikirkan perihal ilmu pengetahuan setanding pahalanya dengan berpuasa, dan menelaahnya setanding pahalanya dengan bangun beribadat di tengah malam. Dengan ilmu pengetahuanlah manusia mentaati Allah Azzawajalla, memperhambakan diri kepadaNya, MengEsakanNya dan membesarkanNya.. Dengan ilmu pengetahuan juga manusia boleh mencapai darjat kewajiban kewara’an, dan dengannya pula manusia menyambung silatur-rahmi. Dengan ilmu pengetahuan juga, ia akan mengenal yang halal dan yang haram. Ilmu pengetahuan itu adalah diumpamakan sebagai pembimbing, manakala amalan pula menjadi pengikutnya, dan berbahagialah orang yang menerima ilham dari ilmu pengetahuan, dan celakalah orang yang terhalang dari ilmu pengetahuan.



Berkata al-Hassan r.a.:



" Kalaulah tidak kerana para ulama, niscayalah manusia sekaliannya sama seperti binatang."

Maksudnya dengan adanya para ulama yang mengajar manusia terkeluarlah mereka dari peringkat-peringkat kebinatangan dan memasuki peringkat kemanusiaan.




Ilmu yang fardhu ‘ain



Bersabda Rasulullah s.a.w.:



“Menuntut ilmu itu adalah wajib atas setiap Muslim.”



Termasuk ilmu yang dikatakan fardhu ‘ain itu, ialah ilmu pengetahuan yang bakal mengenalkan asas tauhid (MengEsakan Allah) yang dengannya pula dapat diketahui Zat Allah Ta’ala dan sifat-sifatNya.



Termasuk fardhu ‘ain juga ilmu pengetahuan yang dengannya dapat dituntut cara-cara beribadat,dibedakan antara yang halal dan yang haram, dan mana satu yang dilarang oleh agama, dan mana yang pula yang dibolehkan dalam urusan agama, dan mana pula yang dibolehkan dalam urusan hidup sehari-hari.



Termasuk juga ilmu yang fardhu ‘ ain ialah ilmu yang mengenalkan hal-ehwal hati, mengenai sifat-sifatnya yang terpuji, seperti bersabar, bersyukur, bermurah hati, berakhlak tinggi, bergaul baik, berkata benar dan iklas. Begitu juga dengan sifat-sifatnya yang terkeji, seperti balas-dendam, dengki, menipu, meninggi diri, riya’, marah berseteru, membenci dan kikir. Maka mengetahui apa-apa yang harus dilakukan dari sifat-sifat yang pertama dan apa-apa yang harus ditinggalkan dari sifat-sifat yang kedua itu adalah fardhu ‘ain. Seperti mana hukumnya membersihkan hal-hal mengenai kepercayaan, ibadat atau mu’amalat.

Ihya Ullumudin

Ihya Ullumiudin ( kitab aqidah Ahlu sunnah )



Aqidah para ahli-sunnah terhadap Zat Allah Ta’ala yang Maha Suci, ialah bahawa Allah Tuhan yang Esa tiada sekutu bagiNya. Dia Qadim (lama) tiada awal bagi wujudNya, dan WujudNya pula terus-menerus tiada akhir bagiNya. Dia Kekal tiada luput sama sekali, Dia tetap bersifat agung dan sifat keagunganNya akan berterusan, tiada akan musnah atau terputus dengan terluputnya berbagai-bagai abad, atau berlalunya bermacam-macam waktu.
Bahkan Dialah Allah yang Awal dan yang Akhir, yang Lahir dan yang Batin dan Dialah Maha Mengetahui akan segala sesuatu. Tuhan Allah bukanlah semacam jisim (rupa) yang dapat digambarkan. Dia tiada menyamai apa pun yang maujud (ada), begitu pula yang maujud itu tiada boleh menyerupaiNya.
Dia tiada dilingkari oleh seluruh penjuru dan arah. Dia tiada pula bertempat, samada dalam lapisan-lapisan bumi atau langit, malah Dia beristiwa’ (memerintah) di atas Arasy mengikut keadaan yang Dia telah firmankan, atau dengan makna yang Dia kehendaki. Dia berada di atas Arasy dan langit, malah di atas segala sesuatu hingga ke batasan bumi. KetinggianNya tiada menjadikanNya lebih dekat kepada Arasy dan langit, sebagaimana semua itu juga tiada menambahkanNya jauh dari bumi dan tanah. Bahkan Allah tetap Maha Tinggi darjatNya dari Arasy dan langit, sebagaimana Dia juga maha Tinggi darjatNya dari bumi dan tanah.
Walau bagaimanapun, Dia tetap dekat kepada yang maujud, dan lebih dekat kepada hambaNya dari urat leher hamba itu sendiri. DekatNya kepada hambaNya tidak serupa dengan dekatnya jisim kepada manusia, begitu juga dengan ZatNya yang tiada serupa dengan zat jisim manusia. Dia tiada bertempat di sesuatu benda, demikian pula benda tiada bertempat pada ZatNya. Maha Suci Allah dari dilingkari oleh sesuatu tempat, sebagaimana Maha SuciNya Dia dari dibatasi oleh sesuatu zaman. Bahkan Dia telah Ada sebelum terciptanya masa dan tempat lagi, dan adaNya Dia sekarang adalah sama seperti keadaan sebelumnya juga.
Di dalam ZatNya, Dia telah dibuktikan kewujudanNya oleh akal fikiran, dan ZatNya dapat dilihat oleh pandangan nanti di kemudian hari di tempat tinggal yang abadi (syurga). Hal itu merupakan suatu nikmat dari Allah dan belas kasihanNya untuk orang-orang yang berbakti kepadaNya, dan sebagai penyempurnaan kenikmatan daripadaNya ialah pengurniaanNya untuk melihat wajahNya yang Maha Mulia.
Dan bahawasanya Allah Ta’ala itu Maha Hidup, Maha Berkuasa, Maha tinggi dan Maha Memaksa, tiada didatangi kecuaian atau kelemahan, tiada dihinggapi kelalaian atau ketiduran dan tiada terkena kehancuran atau kematian. Dialah satu-satunya yang menjadikan dan menciptakan, satu-satunya yang mengadakan dan membentuk Dialah Maha mengetahui akan segala sesuatu yang telah diketahui, ilmuNya meliputi segala apa saja yang berlaku di dalam dasar bumi hingga ke atas langit, tiada sesuatu pun yang terlepas dari ilmuNya sekalaipun seberat atom, samada di dalam bumi atau di pucuk langit.
Bahkan Dia Mengetahui gerak-geri seekor semut yang hitam di atas batu yang licin di malam hari yang gelap-gelita. Dia Mengetahui juga gerakan sebutir debu di tengah-tengah cakerawala ini. Dia Mengetahui yang rahasia dan yang tersembunyi. Dia dapat menyingkap akan perkara-perkara yang terlintas di dalam diri dan gerak-geri hati dan segala rahsia yang disembunyikan; iaitu dengan ilmuNya yang Qadim Azali yang sentiasa Dia masih bersifat dengannya sejak di dalam Azalil-Aazal.
Dan bahawasanya Allah Ta’ala itu Maha menghendaki ke atas semua yang dijadikanNya, dan Maha Pengatur terhadap segala yang diciptakanNya. Tiada boleh berlaku sesuatu pun dalam kerajaanNya atau kekuasaanNya, melainkan dengan ketentuanNya dan kudratNya, dengan hikmatNya dan kemahuanNya. Apa yang Dia kehendaki akan berlaku, dan apa yang Dia tiada menghendaki tidak akan berlaku. Tidak akan ada yang dapat menentang perintahNya, dan tidak akan ada sesiapa yang dapat menolak terhadap hukumNya.
Dan bahawasanya Allah Ta’ala itu Maha Mendengar dan Maha Melihat. Tiada satu pun yang bakal terhalang dari pendengaranNya sesuatu yang terdengar sekalipun yang amat samar, dan tiada satu pun yang bakal tertabir dari pemandanganNya sesuatu yang terlibat sekalipun yang amat halus. PendengaranNya tidak akan terhalang kerana jauh, dan pemandanganNya tidak akan tertutup kerana gelap. PendengaranNya dan pemandanganNya tiada menyerupai pendengaran dan pemandangan makhlukNya, sebagaimana ZatNya juga tiada menyerupai zat makhlukNya.
Dan bahwasanya Allah Ta’ala itu Maha Berkata-kata, Maha Memerintah, Maha Melarang, Maha Mengingatkan dan Mengancam, dan bahawasanya al-Quran, Taurat, Injil dan Zabur itu adalah kitab-kitabNya yang diturunkan ke atas para RasulNya alaihimus-salam membawa percakapanNya yang merupakan sifat bagi ZatNya dan bukanlah sifat bagi mahklukNya. Dan sesungguhnya al-Quran itu adalah Kalamullah yang bukan makhluk (diciptakan) sehingga ia boleh binasa, dan bukan pula sifat bagi makhlukNya sehingga ia boleh punah.
Dan bahwasanya Allah Ta’ala itu Maha Esa, tiada sesuatu yang ada selainNya, bersifat Hadis (baru) yang terjadi dengan perbuatanNya, yang menerima dari keadilanNya dalam rupa yang paling sempurna, paling lengkap dan paling adil.
Dan bahawasanya Allah Ta'ala itu Maha Bijaksana dalam segala perbuatanNya, Maha Adil dalam segala keputusanNya. Dan segala sesuatu selain Allah dari bangsa manusia, jin, malaikat, langit, bumi, binatang, tumbuh-tumbuhan, benda-benda padat yang dapat dilihat atau dapat dirasakan, semuanya itu adalah Hadis (baru) yang dicipta oleh Tuhan dengan kekuasaanNya daripada tidak ada menjadi ada. Dan dijadikanNya pula dalam bentuk yang paling sempurna, yang pada asalnya tidak ada, sebab yang ada di dalam azal itu hanya Zat Allah Subhanahu wa Ta’ala saja dan selainnya tidak ada bersamaNya. Maka Allah telah menjadikan makhluk sesudah itu, sebagai tanda kekuasaanNya dan untuk merealisasikan apa yang terdahulu dari kemahuanNya, dan apa yang ditentukan di dalam azal dari kalimatNya, bukan kerana Dia berhajat penciptaan itu atau memerlukannya. Bila Allah berkehendakkan untuk menjadikan atau menciptakan atau membebankan, bukanlah itu merupakan suatu kewajiban ke atasNya.
Begitu pula bila Dia memberikan nikmat dan membuat kebaikan, bukanlah juga disebabkan suatu kemestian atasNya. Hanya bagiNyalah segala keutamaan dan kebaikan, kenikmatan dan kekurniaan.
Dan bahwasanya Allah azzawajalla itu memberi pahala kepada hamba-hambanya yang beriman ke atas segala ketaatnya, ialah sebab kemurahatian dan janjiNya bukan sebab kewajiban atasNya. Kerana tidak wajib atas Allah sesuatupun terhadap manusia, dan tiada tergambar dariNya sesuatu kezaliman pun. Begitu pula tidak wajib atas Allah satu hak pun kepada manusia, melainkan hak Allah yang merupakan ketaatan menjadi wajib mutlak atas manusia.
Dan kewajiban itu ditentukan setelah peneriamaanya dari para NabiNya alaihimus-salam, dan bukan dengan secara akal-fikiran belaka. Untuk urusan ini, Allah telah mengirimkan para Rasul kepada mereka dan telah melengkapkannya dengan berbagai-bagai mukjizat yang nyata. Para Rasul itu telah pun menyampaikan perintah dan larangan Allah serta janji dan ancamanNya. Maka dengan itu wajiblah atas makhluk membenarkan apa yang mereka membawanya.
Dan bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus nabi yang ummi (tidak pandai tulis-baca) dari keturunan Quraish, iaitu Muhammad s.a.w. Perutusan Muhammad itu kepada sekalian bangsa Arab dan Ajam, jin dan manusia, dan dengan perutusannya, maka berakhirlah semua perutusan para Rasul dan para Nabi. Bagindalah menjadi penyudah sekalian para Rasul, pembawa berita yang menggembirakan dan yang menakutkan dan penyeru kepada jalan Allah dengan izinNya, dan sebagai pelita yang memberikan cahayaNya. Allah menurunkan ke atas baginda kitabNya yang penuh hikmat yang memberikan penerangan tentang agamaNya yang lurus dan menunjukkan kejalan Shirathil-Mustaqim (jalan yang betul). Allah telah mewajibkan ke atas semua makhluk, agar mempercayai baginda dengan apa yang diberitakannya.
Dan bahawasanya Hari Kiamat itu pasti akan tiba juga, tiada boleh diragukan lagi, dan bahawasanya pada hari itu Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membangunkan segala sesuatu yang telah mati, serta mereka akan kembali hidup semula seperti keadaan mereka sebelum itu.
Dan bahawasanya Allah Ta’ala telah menciptakan syurga yang disediakan sebagai tempat tinggal yang kekal bagi orang-orang yang dikasihiNya, dan mereka itu nanti akan diberikan kemuliaan dengan kurnia yang terbesar, iaitu melihat wajahNya yang Maha Mulia itu. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mencipta nereka pula yang disediakan sebagai tempat tinggal yang kekal bagi orang-orang yang mengkufuriNya, dan menentang keterangan-keteranganNya, tiada mempercayai kitab-kitabNya dan para RasulNya, dan mereka itu nanti akan terhalang dari dapat melihat wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
(Sampai di sini saja petikan dari huraian kata-kata Imam Ghazali. Berikutnya pula adalah petikan dari kitab “al-Ibanah” oleh Imam Ash’ari)
Seterusnya hendaklah kita tidak menghukumkan kafir seseorang pun dari ahli kiblat (orang Islam), kerana sesuatu dosa yang dilakukannya seperti zina, mencuri, meminum arak, dan hendaklah kita tidak menentukan seseorang dari ahli tauhid atau yang berpegang teguh dengan keimanan, tempatnya di syurga atau neraka, melainkan sesiapa yang telah disaksikan oleh Rasulullah s.a.w. sendiri tempatnya di syurga atau neraka. Sebaiknya kita harus mengharapkan orang-orang yang berdosa itu untuk memasuki syurga, sebagaimana kita rasa bimbang kalau-kalau mereka akan dimasukkan ke dalam nereka untuk menerima azabNya.
Dan hendaklah kita mengatakan, bahawasanya Allah Azzawajalla akan mengeluarkan beberapa golongan dari neraka sesudah mereka itu hangus terbakar, iaitu dengan syafaat Rasulullah s.a.w. sebagai membenarkan riwayat-riwayat yang dijelaskan sendiri oleh Rasulullah. Dan haruslah kita mempercayai berlakunya azab di dalam kubur, dan bahawasanya Allah Azzawajalla akan mengumpulkan sekelian hamba-hambaNya di suatu tempat perhentian (Mahshar) dan memperhitungkan amalan-amalan orang Mu’minin.
Dan hendaklah kita mencintai para salaf yang dipilih oleh Allah Azzawajalla menjadi sahabat-sahabat kepada Rasulullah s.a.w. Kita memuji-muji mereka, sepertimana Allah telah memuji mereka, dan kita menjadi pengikut-pengikut mereka sekelian.
Kita harus mengatakan, bahwa Imam yang termulia sesudah Rasulullah s.a.w. itu ialah Abu Bakar as-Siddiq r.a dan bahawa Allah s.w.t telah memuliakan agama ini dengan beliau, dan membuktikan keunggulannya terhadap kaum murtad. Abu Bakar telah ditunjuk oleh seluruh ummat Muslimin untuk memegang kepemimpinan, sebagaimana beliau telah ditunjuk oleh Rasulullah s.a.w. untuk menjadi Imam sembahyang.
Oleh itu kaum Muslimin telah memanggilnya Khalifah Rasulullah. Sesudah Abu Bakar, Umar Ibnul-Khattab r.a. pula menjadi Khalifah, dan sesudah beliau Usman bin Affan r.a. pula Khalifah Usman r.a. telah dibunuh secara zalim dan aniaya. Kemudian dari itu, Ali bin Abu Talib r.a mengambil tempat Khalifah. Keempat-empat Khalifah ini adalah pemimpin-pemimpin yang mengantikan tempat Rasulullah s.a.w. dan kekhilafahannya samalah seperti khilafah kenabian.
Kita harus menjejaki jalan sekelian para sahabat Rasulullah s.a.w. dan kita tidak boleh mencampuri perselisihan-perselisihan yang timbul di antara mereka.
Dalam perkara-perkara yang kita perselisihkan pula, hendaklah kita kembali kepada kitab Tuhan kita (al-Quran) dan sunnah Nabi kita (al-Hadith) dan seterusnya kepada ijma’ kaum muslimin atau persepakatannya atau apa yang diertikan dalam pengertian persepakatan itu. Kita tidak boleh mengada-adakan sesuatu yang baru dalam agama Allah, iaitu dalam urusan-urusan yang kita tiada diizinkan. Kita tidak boleh mengatakan sesuatu terhadap Allah padahal kita tiada mengetahui.
Kita harus berpendapat bahwa sedekah untuk kaum Muslimin yang meninggal dunia itu baik sekali, demikian pula berdoa untuk mereka. Kita harus mempercayai bahawa Allah akan menyampaikan manafaatnya kepada mereka itu. (*) Kita berkata pula bahawa para sholihin itu boleh dikhususkan oleh Allah dengan tanda-tanda (keramat) yang diperlihatkanNya bagi mereka sendiri.
(*) Dalam kitab al-Iqnak dan syarahnya dari kitab-kitab mazhab Hanbali berbunyi demikian: Semua peribadatan yang dilakukan oleh seorang Muslim dengan maksud pahalanya dihadiahkan kepada seorang Muslim lain yang hidup atau yang sudah mati. Hukumnya adalah harus dan perbuatan itu akan mendatangkan manafaat kepada orang yang dituju dan ia akan mendapat pahalanya, sehingga untuk Rasulullah sekalipun boleh juga ditujukan amalan serupa itu: iaitu dari ibadat yang berupakan tathauwu’ ataupun wajib yang boleh digantikan oleh orang lain, misalnya haji, puasa nazar, atau yang tak boleh digantikan seperti bersembahyang, berdoa, beristighfar, bersedekah, memerdekakan hamba, menunaikan hutang, puasa dan begitu juga membaca dan lain-lain lagi. Berkata Imam Ahmad: Orang mati itu sampai kepadanya segala-gala yang ditujukan kepadanya dari amalan-amalan yang baik kerana nas-nas yang warid mengenainya. Dan sebab kaum Muslimim sentiasa berkumpul di setiap bandar membaca dan menghadiahkan pahala kepada pembacaan itu kepada kaum keluarganya yang telah mati tanpa ditegah oleh orang banyak, maka bolehlah itu dianggap sebagai ijma’ juga.

Ihya Ullumudin

Ihya Ullumudin ( rahasia bersuci )



Allah berfirman:
“Allah tiada menghendaki untuk menjadikan kesukaran ke atas kamu, akan tetapi Dia menghendaki untuk mensucikan kamu.”
(al-Maidah:7)
Allah berfirman lagi:
“Padanya ada orang-orang yang suka sekali bersuci dan Allah mencintai orang-orang yang bersuci itu.” (at-Taubah: 109)
Bersabda Rasulullah s.a.w.:
“Kunci sembahyang adalah bersuci.”
“Agama itu didirikan atas kebersihan.”
Orang-orang yang mempunyai pandangan yang jauh dapat mengambil kesimpulan dari keterangan-keterangan ini, bahawa perkara yang amat penting sekali ialah mensucikan kebatinan, kerana jauh sekali maksud dari Hadith berikut ini:
“ Kesucian itu adalah setengah dari iman.”
Iaitu hanya untuk mensucikan kelahiran saja, yakni dengan menyirami tubuh dengan air dan mengalirkannya ke seluruh anggota badan, sedangkan kebatinannya tetap rosak dan ditinggalkannya terisi dengan anasir-anasir yang jahat dan kotor-kotoran. Alangkah jauh sekali ia boleh bermaksud demikian.
Taharah atau bersuci itu ada empat tingkatnya, iaitu:
  1. Mensucikan anggota-anggota lahir dari hadas-hadas (najis-najis), anasir-anasir kotor dan yang tidak perlu.
  2. Mensucikan anggota-anggota badan dari perbuatan-perbuatan salah dan dosa.
  3. Mensucikan hati dari akhlak yang terkeji dan kelakuan-kelakuan yang dibenci dan terkutuk.
  4. Mensucikan kebatinan dari tertumpu kepada semua perkara selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan ini adalah cara bersucinya para Nabi Salawatullahi-alaihim dan juga para Siddiqin.
Seseorang hamba tidak akan sampai ke tingkat yang tertinggi sekali, melainkan setelah melalui tingkat yang rendah terlebih dulu. Dia tidak akan sampai kepada tingkat mensucikan kebatinan dari sifat-sifat yang terkeji itu dan menggantikan tempatnya dengan sifat-sifat yang terpuji, selagi belum selesai membersihkan hati dari akhlak yang tercela dan menggantikan tempatnya dengan akhlak yang baik. Demikian pula ia tiada akan sampai ke tingkat ini, melainkan sesudah selesai dari mensucikan segala anggota-anggota badan dari larangan-larangan Allah dan menggantikan tempatnya dengan kerja-kerja ketaatan kepadaNya.
Oleh sebab itulah, apabila yang dituntut itu bernilai dan mulia, tentulah lebih sukar dan susah untuk mencapainya, lebih banyak pula halangan-halangannya. Maka janganlah anda menyangka bahawa tingkat itu akan didapati dengan hanya bercita-cita saja, atau akan dicapai dengan cara yang mudah.
Akan tetapi bila seseorang itu buta mata hatinya dengan perbedaan tingkat-tingkat ini. Tentulah dia tidak akan mengerti akan tingkat taharah atau rahsia bresuci ini, melainkan tingkat yang terendah sekali, yang diumpamakan seperti kulit atas yang boleh dilihat jika dibandingkan dengan isi atau sari yang dicari. Maka oleh kerana itu, dia sentiasa mementingkan perhatiannya kepada kulit semata-mata seraya menghabiskan semua waktunya pada membicarakan istinja’, membersihkan baju dan mensucikan anggota-anggota yang lahir saja, dan mengalirkan air yang banyak. Sebab dia menyangka, samada kerana waswasnya ataupun kerana khayalan fikirannya, bahawasanya kesucian yang dituntut atau yang betul itu mementingkan cara-cara ini.
Sebenarnya dia tiada mengetahui tentang perjalanan orang-orang yang terdahulu yang telah menumpukan segala perhatiannya dan fikirannya kepada perkara mensucikan hati tanpa mengendahkan perkara mensucikan yang lahir. Dia tiada mengetahui bahawa Saiyidina Umar r.a. dengan ketinggian kedudukannya itu pernah berwudhu’ dengan air yang tersimpan dalam kendi seorang Nasrani. Orang yang terdahulu itu juga sering bersembahyang di atas tanah dalam masjid. Ataupun memadai hanya dengan menggunakan batu sewaktu beristinja’.
Nyatalah kini bahawa segala yang diberatkan oleh mereka di masa itu ialah mensucikan kebatinan. Dan jarang-jarang sekali pernah timbul satu-satu pertanyaan dari mereka itu megenai hukum-hukum najis atau dari pertanyaan-pertanyaan yang titik-bengik.
Sekarang sudah sampailah giliran golongan manusia yang kononnya mengambil berat tentang kebersihan, maka dihabiskanlah semua masanya pada menghiaskan anggota-anggota lahir seperti sifatnya tukang andam yang menghiaskan pengantinnya, padahal kebatinannya busuk penuh dengan kotoran-kotoran, sifat-sifat sombong dan ujub (memuji diri), sifat-sifat kebodohan dan riya’ serta nifaq. Malangnya tiada seorang pun yang mengingkarkan atau memperhatikan perkara itu.
Akan tetapi kiranya seseorang itu hanya menggunakannya batu dalam istinja’nya, ataupun menunaikan sembahyangnya tanpa menggunakan sajadah (tikar sembahyang), ataupun mengambil wudhu’nya dari wadah yang dimiliki oleh orang kafir, maka akan tibalah kiamatnya. Orang-orang bodoh itu akan segera bertindak menyalahkan orang-orang itu dan memanggil mereka sebagai orang-orang yang kotor. Cubalah anda perhatikan bagaimana yang mungkar itu menjadi yang baik, dan yang baik pula menjadi mungkar. Dan lihat pula bagaimana orang ramai mempelajari dari agama itu hanya gambarnya saja, sepertimana mereka mempelajari hakikatnya dan ilmunya.
Kiranya anda telah maklum tentang muqaddimah ini, maka marilah kita berbicara kini tentang tingkat-tingkat taharah atau kesucian. Pertama sekali kita ambillah tingkatnya yang keempat, iaitu membersihkan anggota-anggota lahir. Kita katakan bahawa pensucian lahir itu ada tiga perkara:
  1. Membersihkan diri dari benda-benda najis.
  2. Membersihkan diri dari hadas
  3. Membersihkan diri dari yang tidak diperlukan pada badan, dan yang ini dapat dilakukan dengan memotong (seperti memotong kuku, cukur bulu ari-ari dan sebagainya) dan mandi, menggunakan bedak, berkhitan dan lain-lain lagi.
Mensucikan kotoran atau najis
Pembicaraan mengenai hal ini tergantung kepada tiga perkara, iaitu:
  1. Benda yang disucikan.
  2. Benda yang mensucikan.
  3. Cara mensucikan.
Yang disucikan iaitu benda yang najis
Mata benda itu ada tiga: iaitu benda yang padat atau cair, binatang dan bahagian-bahagian dari binatang. Kesemua benda-benda padat atau cecairan dihukumkan suci kecuali khamar (arak) dan segala cecairan yang memabukkan. Dan kesemua binatang pula dihukumkan suci, kecuali anjing dan babi.
Tetapi apabila binatang-binatang itu mati, maka hukumnya najis melainkan lima, iaitu:
  1. Manusia
  2. Ikan
  3. Belalang
  4. Ulat buah-buahan atau seumpamanya yang terjadi dari makanan.
  5. Semua binatang yang tiada darah yang mengalir seperti lalat, lipas atau sebagainya, maka tiadalah air itu menjadi najis bila binatang-binatang serupa itu jatuh kedalamnya.
Tentang bahagian-bahagian binatang ada dua macam:
  1. Anggota yang terpotong dari binatang itu, maka hukumnya adalah hukum bangkai kecuali bulunya. Bulu binatang tiada menjadi najis samada matinya dengan sebab disembelih ataupun tidak tetapi tulangnya adalah najis bila matinya tidak disembelih.
  2. Benda basah yang keluar dari dalam badan binatang itu, maka mana-mana yang tidak mempunyai tempat yang tetap, maka hukumnya suci seperti air mata, keringat, air liur, hingus: dan mana-mana yang tempatnya tetap, maka hukumnya najis, melainkan apa yang asalnya berpunca dari binatang itu sendiri, seperti air mani dan telur. Adapun nanah, darah, tahi dan kencing dari binatang kesemuanya najis.
Dan tiadalah dimaafkan najis-najis tersebut samada sedikit atau banyak, kecuali dalam lima perkara:
  1. Bekas tempat keluar najis (dubur) sesudah istinja’ yang menggunakan batu, dimaafkan kira najis yang keluar itu tiada melampaui tempat itu.
  2. Lumpur di jalanan ataupun debu dari kotoran tahi di tengah jalan, dimaafkan walaupun diyakini kenajisannya, yakni dengan syarat sukar untuk menjauhkan diri daripadanya, sehingga orang yang terkena lumpur atau debu itu tidak boleh dituduh cuai atau lalai.
  3. Najis-najis yang melekat di bawah khuf (sepatu yang ditentukan oleh syara’ boleh memakainya dalam sembahyang) yang biasanya semuanya jalanraya tidak sunyi daripadanya. Maka najisnya dapat dimaafkan sesudah dikikis semua najis-najis itu sewaktu hendak digunakan.
  4. Darah nyamuk, samada sedikit mahupun banyak, boleh dimaafkan kecuali jika ia melewati batas kebiasaannya, samada yang melekat di pakaian anda mahupun di pakaian orang lain yang anda memakainya.
  5. Darah kudis atau bisul atau apa-apa yang terpisah daripadanya seperti nanah, atau darah yang bercampur dengan nanah dimaafkan juga. Dalilnya, pernah Ibnu Umar r.a. menggosok bisul di mukanya, maka keluarlah daripadanya darah. Beliau terus bersembahyang tanpa membasuh darah itu terlebih dulu. Dalam pengertian yang lain ialah segala yang memancar dari kotoran-kotoran bisul yang biasanya keluar terus-menerus, begitu juga bekas-bekas luka dari bekam (atau pembedahan dan operasi) melainkan kalau yang terjadinya itu jarang-jarang sekali baik berupa luka atau lain-lainnya, maka hukumnya samalah seperti hukum darah istihadhah (darah yang keluar dari wanita yang menderita sakit), hukumnya tidak boleh dikira sama seperti darah yang keluar dari bisul, yang pada banyak hal manusia tiada berdaya untuk menahannya
Kelonggaran syara’ dalam memaafkan najis-najis yang lima macam itu menunjukkan bahawa perkara taharah atau bersuci itu diletakkan atas kemudahan dan keringanan, sehingga ia tiada meninggalkan tempat untuk berwaswas, yang mana waswas itu sebenarnya tiada berasal sama sekali.
Benda yang mensucikan
Benda yang mensucikan najis itu samada beku atau cair.
  1. Yang beku adalah batu yang digunakan untuk beristinja’ dan ia boleh mensucikan secara ringan saja, syaratnya mestilah benda itu keras, tahir (suci), boleh menghisap (tidak licin) dan bukan dari benda yang muhtaram.
  2. Yang cair pula, maka najis-najis itu tidak akan dapat disucikan melainkan dengan air saja. Dan airnya pula bukan sebarangan, melainkan air yang lahir (suci) yang tiada rosak percampurannya dengan sesuatu yang tiada diperlukan olehnya, dan air itu terkeluar dari takrif suci bila ia berubah rasanya atau warnanya atau baunya bila bercampur dengan benda najis. Tetapi kiranya ia tiada berubah rasanya atau warnanya atau baunya bila bercampur dengan benda najis, maka tiadalah dikirakan air itu sebagai najis,(* Menurut Mazhab Syafi’l air itu mestilah dari dua qulah, jika kurang, hukumnya najis, samada berubah atau tidak) berdasarkan sabda Rasulullah s.a.w.:
“Allah telah menjadikan air itu suci, tidak dapat dinajiskan oleh sesuatu benda pun, melainkan kalau berubah rasanya atau warnanya atau baunya.”
Cara mensucikannya
Najis itu samada dinamakan hukmiyah, iaitu bila tiada berjirim (tiada berbekas) yang boleh dirasa, maka hukumnya cukuplah dengan mengalirkan air di tempat yang dikatakan bernajis itu.
Ataupun dinamakan ‘ainiyah (kelihatan), maka wajibkan menghilangkan diri najis itu. Dan kalau ada juga bekas-bekas warna sesudah dikikis dan dibasuh, maka hukumnya dimaafkan. Juga dimaafkan baunya kalau sukar untuk menghilangkan. Dan memeras sesuatu barang itu berkali-kali samalah seperti mengikis dan membasuhnya, kalau sesudah itu warnanya tidak hilang juga, hukumnya dimaafkan.
Bagi orang yang tabiatnya suka berwas-was, hendaklah ia menyakinkan dirinya, bahawa kesemua benda-benda itu asalnya dijadikan tahir atau suci. Oleh itu, jika ia tiada melihat dengan matanya sendiri pada sesuatu benda itu ada najis, dan tiada mengetahui dengan yakin ada najisnya, maka hendaklah ia bersembahyang saja dengannya.
Mensucikan hadas
Termasuk perkara mensucikan hadas itu ialah wudhu’, mandi (wajib) dan tayammum, dan sebelum itu didahulukan istinja’. Kini kita akan sebutkan cara-caranya, satu demi satu, secara teratur beserta adab-adabnya dan sunnat-sunnatnya.
Kita mulakan dengan sebab-sebab berwudhu’ dan adab-adab orang yang melepaskan hajatnya (buang air kecil dan besar). Insha Allah Ta’ala.
Adab melepaskan hajat
Seseorang yang ingin melepaskan hajatnya, hendaklah memilih tempat yang jauh dari pandangan orang ramai, seperti di tempat yang lapang.
Hendaklah ia menutup (berlindung) dengan sesuatu benda kiranya boleh didapat. Dan jangan ia tergesa-gesa memuka auratnya, sebelum sampai ke tempat duduk untuk melepaskan hajat itu. Janganlah hendaknya ia menghadap kiblat atau membelakanginya ketika itu. Juga janganlah hendaknya ia melepaskan hajatnya ditempat-tempat biasanya orang ramai berkumpul kerana berbual-bual atau duduk-duduk berehat. Janganlah ia membuang air kecil pada air yang bertakung (tidak mengalir), atau di bawah pokok yang berbuah atau di lubang. Juga jangan di tempat yang keras, atau di tempat tiupan angin agar terpelihara dari percikan air kencing itu, dan hendaklah ia mengiring (dengan punggungnya bertenggong) kepada kaki kirinya.
Apabila ia ingin membuang air kecil di dalam bangunan (tandas), maka hendaklah ia mendahulukan kaki kiri ketika memasukinya dan kaki kanan ketika keluar. Jangan pula ia membawa bersamanya ketika itu sesuatu yang tertulis padanya Allah Ta’ala atau nama RasulNya s.a.w.
Ketika masuk ia membaca:
“Dengan nama Allah saya berlindung denganNya dari gangguan syaitan, lelaki dan perempuan.”
Ketika keluar ia membaca:
“Segala kepujian bagi Allah yang telah menghapuskan dariku apa-apa yang boleh membahayakan aku, dan mengekalkan bagiku apa-apa yang boleh memberi manfaat kepadaku.”
Sesudah selesai buang air sebaik-baiknya ia beristibra’ (mengetus) tiga kali, dan janganlah ia memikirkan terlalu banyak beristibra’ itu, agar ia tiada berwaswas sehingga perkara ini merumitkannya. Jika ia merasakan ada sedikit basah, hendaklah ia menganggap itu sisa dari air. Ketahuilah bahawa orang yang paling ringan istibranya dikira paling pandai dalam ilmu fiqhnya, sebab waswas itu menunjukkan ilmu fiqhnya cetek.
Antara perkara yang diringankan lagi, membolehkan seseorang itu membuang air kecil berdekatan dengan rakannya, tetapi mestilah ada tutup antaranya. Yang demikian itu pernah dilakukan oleh Rasulullah s.a.w. sendiri padahal baginda amat pemalu orang nya, tetapi itu adalah untuk mengajar orang ramai tentang kebolehan melakukannya.
Cara beristinja’
Sesudah membuang air atau melepaskan hajat itu dia pun beristinja’ dengan tiga butir batu. Selain batu boleh boleh juga digunakan segala benda yang kasar tetapi suci.
Selanjutnya dia beristinja’ pula dengan air; iaitu dengan menyiram air dengan tangan kanan di tempat keluarnya najis itu, sedang tangan kirinya mengosok tempat itu sehingga tiada lagi yang tinggal dari bekas najis di situ. Ini dapat dirasakan oleh tapak tangan kiri yang menggosok tempat keluarnya najis tadi.
Hendaklah ia tiada melampau pada mengorek atau meraba bahagian di dalam (dubur), kerana yang demikian itu akan menimbulkan waswas pada diri. Ketahuilah mana tempat yang tiada boleh sampai kepadanya air itu dikira bahagian dalam, sedangkan hukum najis itu tidak terlibat pada kotoran-kotoran di segala bahagian dalam, selama ianya tiada terlihat atau dihukumkan pada hukum lahir.
Dan hukum najis itu hanya terkena pada bahagian-bahagian yang lahir saja, dan batasan pensuciannya ialah dengan menyampaikan air kepadanya dan menghilangkan najis itu dari situ. Dengan itu maka tidak perlu untuk ditimbulkan waswas lagi.
Cara berwudhu’
Sesudah selesai istinja’ dan hendak memasuki sembahyang, maka hendaklah ia berwudhu’ terlebih dulu.
Mula-mula bersiwak (gosok gigi), kemudian dia duduk kerana berwudhu’ sedangkan keadaannya menghadap ke kiblat, lalu membaca Bismillaahirrahmaanir-rahiim. Sesudah itu, dia membasuh pula kedua tangannya dahulu sebelum memasukkanya ke dalam bekas. Kemudian dia mengambil air itu di dalam mulutnya, kecuali jika ia sedang berpuasa. Kemudian mengambil secedok lagi untuk dimasukkannya ke dalam hidung untuk beristinsyaq tiga kali juga. Air itu hendaklah disedut hingga sampai ke dalam lubang hidungnya serta dikocak-kocaknya.
Selesai itu barulah dia mencedok secedok air lagi untuk membasuh mukanya, dan hendaklah dia membasuhnya dari hujung dataran dahi hingga ke hujung bahagian dari dagu memanjang; dan dari satu telinga ke telinga yang lain melebar pula, dan air itu mestilah sampai kepada keempat-empat tempat tumbuhan rambut; iaitu dua bulu kening, misai (kumis), bulu yang tumbuh di bawah bibir dan bulu mata, dam rambut-rambut itu biasanya tipis saja.
Dan air itu mestilah sampai juga ke tempat tumbuhan janggut yang tipis. Kalau janggutnya lebat, maka memadailah air itu sampai ke bahagian lahirnya saja, tetapi sunnat disisirkannya dengan jari. Sunnat juga jari-jarinya dimasukkan di bulatan mata untuk membersihkannya dari tahi mata atau lebihan celak.
Sesudah itu barulah dia membasuh kedua tangannya hingga kedua sikunya tiga kali. Dimulakan dengan yang kanan dulu. Jika memakai cincin, digerak-gerakkan cincin itu supaya air sampai di bawahnya.
Sesudah itu diratakan kepalanya dengan menyapu dengan kedua tangannya, setelah dibasahkan terlehih dulu dengan air. Caranya dengan mempertemukan hujung-hujung jari kanannya dengan hujung-hujung jari kiri, dan diletakkan kedua tangannya itu di muka kepala, lalu melalukan keduanya itu hingga ke belakang kepala.
Sesudah itu, disapu pula kedua telinganya di bahagian-bahagian luar dan dalam dengan cedokan air yang baru, kemudian dia menyapu pula tengkuknya dengan air yang baru juga.
Seterusnya, dibasuh pula kedua kakinya hingga ke bukulali serta disela-selakan antara jari-jari kaki.
Selesai melakukan itu semua, dia pun mengangkat kepalanya menadah ke langit seraya membaca:
“Saya menyaksikan bahawa sesungguhnya tiada Tuhan melainkan Allah, dan menyaksikan sama bahawa sesungguhnya Muhammad itu hambaNya dan RasulNya. Wahai Tuhanku! Jadikanlah saya termasuk golongan orang yang bertaubat, dan jadikanlah saya termasuk golongan orang yang bersuci, dan jadikanlah saya termasuk golongan hambaMu yang sholeh.”
Yang makruh dalam berwudhu’
Di waktu berwudhu’ itu makruh melebihi dari tiga kali. Juga makruh berlebih-lebihan menggunakan air. Nabi s.a.w. ketika berwudhu’ hanya melakukan tiga-tiga kali saja, seraya bersabda:
“Siapa yang melebihi (yakni lebih dari tiga kali), maka ia telah membuat salah dan menganiaya.”
Sabdanya lagi:
“Akan datang suatu kaum dari ummat ini, suka melampaui batas (berlebih-lebihan) dalam perkara berdoa dan bersuci.”
Ada dikatakan, bahawa antara kelemahan seseorang dalam ilmu agamanya, gemarnya membuang-buang air ketika bersuci. Makruh juga merenjis-renjiskan tangan sehingga air terpercik daripadanya, ataupun menampar-nampar muka dengan air.
Maksud bersuci
Sesudah selesai dari berwudhu’ dan hendak memulakan sembahyang, hendaklah ia menyakinkan di dalam hatinya, bahawasanya ia telah bersuci segala anggota lahirnya; iaitu tempat pandangan orang ramai kepadanya.
Sepatutnya dia juga harus merasa malu kalau hendak bermunajat kepada Allah Ta’ala tanpa terlebih dulu membersihkan hatinya, iaitu tempat pandangan Allah s.w.t. Sayugialah hendaknya ia merasa yakin bahawa kesucian hatinya dengan bertaubat kepada Allah s.w.t. dan menjauhkan diri dari segala akhlak yang terkeji serta berkelakuan dengan akhlak yang terpuji itu, adalah lebih utama dari hanya mensucikan anggota yang lahir saja.
Perumpamaanya sama seperti seorang yang ingin mengundang seorang raja ke rumahnya, lalu dibiarkan dalam rumah itu penuh dengan kotoran, padahal pintu rumah itu dibersihkan dan dicat baik-baik. Bukankah yang demikian itu akan mendedahkan dirinya kepada kemurkaan raja, dan menyebabkan dia menerima balasan daripadanya.
Cara mandi wajib
Mula-mula ia membasuh kedua belah tangan tiga kali, kemudian beristinja’ dan menghilangkan segala macam kenajisan yang ada pada badan, kalau memang ada. Sesudah itu, barulah ia berwudhu’ kerana mahu bersembahyang, sebagaimana yang telah kita huraikan sebelum ini, kecuali membasuh kedua belah kaki, maka hendaklah ia menangguhkannya dahulu.
Kemudian mulalah ia menyirami badan dengan air, bermula dari kepala, kemudian bahagian kanan, kemudian bahagian kiri pula.
Selesai menyirami air, ia pun menggosok bahagian hadapan dari badan, kemudian bahagian belakang pula. Dan hendaklah ia menyela-nyela rambut yang di atas kepala, begitu juga dengan janggut, supaya air itu sampai ke pangkal tempat tumbuhnya rambut-rambut itu, samada rambut-rambut itu lebat mahupun tipis.
Seorang perempuan yang mandi wajib tidak perlu menghuraikan siputnya, kecuali kalau ia bimbang air tidak akan sampai ke celah-celah rambut, dan hendaklah ia memelihara pula lipatan badannya (agar air dapat meratai seluruh badannya).
Mandi itu menjadi wajib dengan empat perkara:-
  1. Kerana keluar air mani.
  2. Kerana persetubuhan.
  3. Kerana haidh.
  4. Kerana nifas.
Selain dari mandi-mandi tersebut di atas itu adalah sunnat hukumnya, seperti mandi kerana dua hariraya, kerana hadir sembahyang Jum’at, kerana berihram, kerana wuquf di Arafah, kerana masuk negeri Makkah dan bagi orang yang memandikan orang mati.
Cara bertayammum
Barangsiapa yang uzur tidak dapat menggunakan air kerana ketiadaannya; samada setelah berusaha mencarinya tetapi tidak dapat, ataupun kerana adanya halangan untuk sampai ke tempat air seperti binatang buas, ataupun ada orang yang menahannya untuk pergi ke tempat air, ataupun air itu ada tetapi hendak digunakan untuk minumannya sendiri atau minuman hambanya, ataupun air itu kepunyaan orang lain, sedangkan orang yang mempunyai air itu tiada ingin menjualnya melainkan dengan harga yang lebih mahal dari harga biasanya, ataupun pada anggotanya ada luka-luka atau ada semacam penyakit yang kalau digunakan air pada anggota itu nescaya akan bertambah penyakitnya atau rosak, maka hukumnya hendaklah ia menunggu sehingga masuknya waktu sembahyang.
Sesudah tiba waktu sembahyang, barulah dia mencari debu yang bersih dari tanah yang suci. Bertayammum ialah menepuk kedua belah tapak tangan dengan semua jari-jarinya rapat antara satu dengan yang lain, lalu menyapukan kedua belah tapak tangan yang berdebu itu keseluruh wajahnya sekali saja. Jangan dipaksakan sangat agar debu itu sampai ke dalam sela-sela rambut, sama ada rambutnya tebal atau nipis.
Kemudian hendaklah menanggalkan cincin (kalau bercincin) dan menepuk sekali lagi, sedangkan jari-jari tangan direnggangkan pula, dan menyapukan tangan kanan dengan tapak tangan kiri dan menyapukan pula tangan kiri dengan tapak tangan kanan.
Dengan satu tayammum, ia boleh bersembahyang satu sembahyang fardhu saja, manakala sembahyang sunnat boleh dilakukan sebanyak yang diperlukan. Kalau mahu melakukan sembahyang fardhu yang lain, hendaklah ia bertayammum sekali lagi.
Kebersihan dari kelebihan-kelebihan yang tahir
Ada dua jenis yang harus dibersihkan iaitu; Jenis-jenis kotoran di badan dan najis-najis kelebihannya.
Jenis-jenis kotoran di badan
Adapun jenis-jenis kotoran atau benda basah yang melekat di badan iaitu delapan:
  1. Apa-apa yang berkumpul dari kotoran-kotoran di rambut kepala seperti daki dan kutu. Membersihkan ini semua adalah digalakkan oleh syara’, iaitu dengan mandi dan menyisir kemudian memakai minyak rambut, sehingga hilang semua kotoran itu dan nampak bersih. Rasulullah s.a.w. sendiri sering meminyaki di rambutnya dan menyisirnya, dan demikianlah baginda mengajar ummatnya supaya melakukan itu.
  2. Apa-apa yang terkumpul dari kotoran di lubang telinga, hendaklah dibersihkan
  3. Apa-apa yang terkumpul dari kotoran-kotoran di dalam lubang hidung, yang boleh dibersihkan dengan menyedut air ke dalamnya dan mengocak-ngocakkannya.
  4. Apa-apa yang terkumpul dari kotoran-kotoran di gigi dan di hujung lidah, boleh membersihkannya dengan bersiwak atau menggosok gigi kemudian berkumur-kumur.
  5. Apa-apa yang terkumpul dari kotoran-kotoran di janggut, seperti debu-debu atau kutu, yang boleh dibersihkan dengan mandi dan menyisirnya dengan sisir (sikat). Adapun membiarkan janggut secara tidak teratur untuk menunjukkan zuhud, ataupun tidak mengambil berat tentang urusan diri adalah dilarang oleh syara’. Meninggalkan cara-cara serupa ini kepada perkara-perkara yang serupa ini adalah perkara-perkara kebatinan antara seorang hamba dengan Tuhannya Azzawajalla. Ketahuilah olehmu bahawa Allah s.w.t. mengetahui akan tujuan hati orang itu, dan mengelirukan keadaan tidak ada faedahnya sama sekali.
  6. Kotoran-kotoran yang terkumpul di celah-celah jari. Orang-orang Arab dahulukala tidak biasa membersihkannya, kerana mereka jarang sekali membasuh tangan selepas makan. Oleh itu, sering pulalah berkumpul bekas-bekas makanan itu dicelah-celah jari, maka Rasulullah s.a.w. memerintahkan supaya membasuh celah-celah jari itu.
  7. Membersihkan hujung-hujung jari dari kotoran-kotoran. Rasulullah s.a.w. pernah menyuruh ummatnya untuk membersihkan hujung-hujung jari dari kotoran-kotoran yang yang ada di dalam kuku, sebab terkadang-kadang bila dipotong kuku masih tertinggal sebahagian kotoran di situ, maka hendaklah dibersihkannya.
  8. Daki-daki yang terkumpul di merata badan, tersebab oleh peluh atau debu-debu yang melekat di situ. Membersihkannya ialah dengan mandi dan menggosoknya.
Tata-tertib dalam bilik mandi
Tidak salah bermandi di tempat-tempat mandi umum (kolam renang) asalkan menjaga tata-tertibnya. Sahabat-sahabat Rasulullah pernah bermandi di tempat-tempat mandi umum di negeri Syam.
Ada pepatah yang berkata: Sebaik-baik tempat ialah tempat mandi. Ia membersihkan badan dan mengingatkan tentang api neraka. Kata-kata ini diriwayatkan dari Abu Darda’ dan Abu Ayub al-Anshari r.a. Ada yang lain berkata pula: Seburuk-buruk tempat ialah tempat mandi di mana para pemandinya mendedahkan aurat dan orang ramai sudah kehilangan malu.
Perbedaan di antara dua tempat mandi ini, ialah yang pertama mendedahkan bagi kita faedahnya yang kedua pula mendedahkan bencananya. Tidak mengapalah kita mengambil faedah dari tempat mandi itu, dalam pada itu jangan sampai kita tercebur kepada bencananya pula.
Selain dari itu, atas orang yang menggunakan tempat mandi itu adalah pula tugas-tugasnya dari perkara-perkara yang disunnatkan dan yang diwajibkan. Ada dua kewajiban atas pengguna tempat mandi umum untuk memelihara auratnya dan dua kewajiban yang lain untuk memelihara aurat orang lain.
Dua kewajiban untuk memelihara auratnya ialah, menjaga agar auratnya jangan sampai ternampak oleh orang lain dan menjaganya juga dari disentuh oleh mereka. Jangan sampai dibiarkan diperlakukan sesuatu ke atasnya, atau dibersihkankan kotoran daripadanya melainkan dia yang melakukannya sendiri. Kalau ada orang yang membantu menggosok, maka jangan sampai dibenarkan menyentuh bahagian paha dan bahagaian diatasnya hingga ke pusat.
Dua kewajiban untuk melihara aurat orang lain, ialah menutup mata dari memandangnya seraya melarang orang itu dari mendedahkan auratnya, sebab melarang orang dari mendedahkan auratnya adalah wajib hukumnya. Ia wajib mengingatkan orang itu, tetapi bagi orang yang diingatkan itu tidak wajib menurut pula.
Adapun perkara sunnatnya, di antaranya ialah niat. Maka janganlah hendaknya ia masuk ke tempat mandi kerana sesuatu maksud dunia , atau untuk bermain-main atau suka-suka saja, akan tetapi hendaklah ia meniatkan bersuci yang dituntut oleh agama, kerana menyediakan untuk bersembahyang.
Hendaklah ia masuk dengan kaki kiri, dan janganlah ia tergesa-gesa masuk ke dalam tempat mandi yang panas, melainkan sesudah ia keluar peluh pada tempat mandi yang pertama. Jangan banyak membuang (membazir) air, malah wajib ia mengambil air sekadar hajat saja, sebab itulah yang diizinkan kepadanya kalau hendak diperhitungkan. Mengambil air lebih dari yang dihajati akan menyebabkan penjagaan tempat mandi itu tidak rela, kiranya ia mengetahui, terutama sekali dari air panas. Sebab perbelanjaannya tentulah besar dan menggunakan lebih dari yang diperlukan akan menyusahkan pemilik tempat mandi itu.
Dan hendaklah ia mengingat pula betapa panasnya api neraka itu kelak kalau dibandingkan dengan panasnya air tempat mandi itu. Dianggapnya pula dirinya seolah-olah sedang dalam penjara yang berhawa panas ketika itu, kemudian diperbandingkan juga dengan Neraka Jahannam yang kira-kira sama tempat itu dengan tempat di Jahannam, yakni api dari bawahnya dan gelap-gelita dari atasnya na’uzu billahi min zalik (kita berlindung kepada Allah dari keadaan itu).
Tidak menjadi salah untuk berjabat tangan dengan rakan yang baru masuk ke tempat itu atau berkata: Tuhan memberikan kepadamu afiat. Boleh dibiarkan badannya digosok oleh orang lain, begitu juga belakangnya dan tangan serta kakinya dipicit-picit oleh orang lain juga.
Sebaik-baik saja dia keluar dari tempat mandi itu, segeralah dia mengucap syukur kepada Allah s.w.t. atas nikmat yang baru dikecapnya tadi, sesudah itu jangan pula disiram kepalanya dengan air sejuk ketika hendak keluar atau meminum air sejuk, kerana yang demikian itu bertentangan dengan peraturan kesihatan.
Orang-orang perempuan, makruh pergi ke tempat-tempat mandi, melainkan kerana sesuatu dharurat, dan itu pun dengan menjaga tutup badan dengan rapi.
Jenis-jenis kelebihan di badan
Adapun jenis-jenis kelebihan atau yang tumbuh di badan itu ada delapan macam:
  1. Rambut kepala: Boleh dicukur botak bagi orang yang menginginkan kebersihan kepalanya dan boleh juga dipendekkan, tetapi dengan memakai minyak dan menyikatnya secara teratur.
  2. Misai: Disunnatkan memotong misai yang panjang melebihi bibir dan boleh membiarkan hujung-hujungnya melebar ke kanan atau ke kiri.
  3. Bulu ketiak: Disunnatkan membuangnya paling kurang setiap 40 hari sekali, atau lebih awal lagi dari itu.
  4. Bulu kemaluan: Disunnatkan membuangnya dengan dicukur, atau dengan kapur paling kurang setiap 40 hari sekali, ataupun lebih cepat lagi dari itu.
  5. Kuku: Memotongnya adalah sunnat disebabkan memang hodoh sekali kelihatannya bila terlalu panjang, tambahan pula akan banyak sekali kotoran yang terkumpul padanya. Dalam cara memotong kuku tidak ada riwayat yang sahih dari Nabi s.a.w.
  6. Kelebihan pada pusat: Tali pusat hendaklah dipotong ketika bayi dilahirkan.
  7. Kulit yang menutupi kemaluan: Membersihkannya adalah dengan berkhitan pada hari ketujuh dari hari lahirnya. Tetapi kalau dikuatiri akan berlaku bahaya, tidak mengapa jika ditunda.
  8. Janggut yang panjang: Diriwayatkan dari setengah para sahabat dan tabi’in, yang panjang itu adalah lebih dari cekakan tangan, maka hendaklah dipotong. Setengah yang lain berkata pula: Membiarkan janggut panjang lebih baik. Perkara ini terserahlah kepada diri orang itu sendiri, asalkan tidak terlalu panjang sekali sehingga menghodohkan rupa dan muka, kelak orang ramai akan memandang jijik kepadanya dan mencelanya. Oleh itu, hendaklah ia berjaga-jaga jangan sampai berlaku keadaan yang serupa itu.
Mengenai janggut, ada sepuluh perkara yang dimakruhkan dan sebahagian darinya lebih makhruh dari yang lain:
  1. Mewarnakannya hitam, atau
  2. Memutihkannya dengan kapur,
  3. Mencabutnya, atau
  4. Mencabut rambut-rambutnya yang putih,
  5. Mengurangi atau menambahnya,
  6. Menyikatnya dengan cara menunjuk-nunjuk kerana tujuan riya', atau
  7. Meninggalkannya bercelaru kononnya kerana kezuhudan,
  8. Terpengaruh dengan kehitamannya kerana menganggap diri masih muda, atau
  9. Terpengaruh dengan keputihannya kerana membesarkan diri, sebab sudah tua, dan
  10. Mewarnakannya merah tanpa sebab, hanya kerana berangan-angan hendak menjadi orang saleh.
Adapun mewarnakannya hitam, ada diriwayatkan larangan kerananya, sebab yang demikian itu akan menarik orang itu kepada kemegahan diri, ataupun pengeliruan orang ramai. Manakala mewarnakannya putih dengan kapur, mungkin kerana hendak menunjukkan kepada orang ramai bahawa umurnya telah meningkat tua untuk tujuan meninggikan diri atas orang-orang muda, ataupun untuk menunjuk-nunjuk dirinya banyak ilmu, kerana mungkin disangkakannya kelebihan umur itu akan menghasilkan kelebihan kedudukanya, alangkah batilnya pandangan serupa itu! Kerana kelebihan umur itu tidak akan menambahkan si jahil melainkan kejahilan juga. Hanya ilmu pengatahuan sajalah yang boleh menjadi buah dan akal fikiran, dan ia pula adalah suatu bakat yang dikurnakan oleh Tuhan, manakala umur tua itu tidak akan meninggalkan apa-apa kesan kepadanya. Orang yang sifatnya jahil atau kurang akal, maka sepanjang umurnya ia akan hidup menunjukkan kejahilannya atau kekurangan akalnya. Orang-orang tua dahulu kala sentiasa menonjolkan anak-anak muda kerana ilmu pengatahuannya.
Khalifah Umar Ibnul-Khattab r.a. pernah mengemukakan bnu Abbas dalam majlis para sahabat yang tua-tua, sedangkan Ibnu Abbas ketika itu masih muda lagi. Mereka pun bertanya kepada akan hal-ehwal agama mereka.
Berkata Ibnu Abbas r.a.: Allah Azzawajalla tiada mengurniakan seseorang hambaNya sesuatu ilmu, melainkan sewaktu masih mudanya dan kebaikan itu tetap ada pada usia muda, kemudian beliau membacakan firman Allah yang berbunyi:
“Mereka mengatakan bahawa kami mendengar ada seorang anak muda yang menyebut-nyebutkan mereka dan anak muda itu dipanggil Ibrahim.” (al-Anbia’:60)
Dan firman Allah lagi:
“Mereka itu adalah anak-anak muda yang beriman dengan Tuhan mereka, lalu Kami (Allah) pun menambahkan bagi mereka hidayat.” (al-Kahf: 13)
Dan firmanNya lagi:
“Dan Kami (Allah) memberikan kepadanya kebijaksanaan, ketika ia masih kecil." (Maryam: 12)
Berkata Ayub as-Sakhtiani:
Pernah aku terjumpa seorang tua yang berumur 80 tahun sedang mempelajari sesuatu dari seorang anak kecil.
Pernah Abu Amru Ibnul-Ala’ ditanya: Maniskah seorang yang sudah tua belajar dari seorang anak kecil? Abu Amru menjawab: Kiranya kejahilan itu akan menampakkan seseorang itu bodoh di muka ramai, maka pelajaran pula akan menampakkan ia elok di hadapan mereka.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More