Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Mei 2011

Al HAbib Ali bin Abdurahman Al Habsyi


Silsilahnya adalah : Al-Habib Ali bin Abdurahman bin Abdullah bin Muhammad bin Husein bin Abdurahman bin Husein bin Abdurahman bin Hadi bin Ahmad ( Shohib Syi’ib ) Al-Habsyi. Beliau dilahirkan di Kwitang pada hari Minggu tanggal 20 Jumadil Akhir 1286 Hijriyyah bertepatan dengan tanggal 20 April 1870 M. Ayahnya, Al-Habib Abdurahman Alhabsyi kelahiran Semarang kemudian pindah ke Jakarta dan menikah dengan Hajjah Salmah seorang puteri Betawi Asli yang berasal dari Jatinegara. Al-Habib Abdurahman Alhabsyi wafat di Jakarta pada tahun 1296 H dan dikuburkan di Cikini, sedangkan Hajjah Salmah wafat tanggal 2 Rajab 1351 Hijriyyah, dikuburkan di Tanah Abang .
Setelah Al-Habib Ali berumur 10 tahun ayahnya meninggal dunia, tidak lama kemudian Al-Habib Ali dikirim belajar ke Hadramaut sesuai wasiat ayahandanya, di Hadhramaut berguru kepada para ulama dan auliya', diantaranya :
1.Al-Habib Ali bin Muhammad Alhabsyi
2.Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-Atthas
3.Al-Habib Hasan bin Ahmad Alaydrus
4.Al-Habib Zein bin Alwi Ba’bud
5.Assyekh Hasan bin Awadh bin Mukhaddam
Selain itu Al-Habib Ali menghadiri majelis ilmu Al-Habib Abdurahman bin Muhammad Al-Masyhur mufti Al-Diyar Al-Hadramiyah, Al-Habib Umar bin Idrus bin Alwi Alaydrus serta Al-Habib Alwi bin Abdurahman Al-Masyhur. Pada tahun 1300 H. menghadiri majelis Maulid yang diselenggarakan oleh Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi. Pada saat itu hadir pula Al-Habib Al-Quthub Ahmad bin Muhammad Al-Muhdhor beserta anak-anaknya.
Pada tahun 1303 H., Al-Habib Ali Pulang ke tanah air setelah bermukim selama 6 tahun. Ketika berada di Indonesia, umur beliau 16 tahun dan melanjutkan belajar kepada :
1.Al-Habib Usman bin Abdullah bin Yahya
2.K.H.Abdul Hamid, Jatinegara
3.K.H.Mujtaba bin Ahmad, Jatinegara
4.Al-Habib Muhammad bin Alwi Al-Shulaibiyah Alaydrus
5.Al-Habib Salim bin Abdurahman Al-Jufri
6.Al-Habib Husin bin Muchsin Al-Atthas
7.Al-Habib Abdullah bin Muchsin Al-Atthas, Bogor
8.Al-Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Al-Atthas, Pekalongan
9.Al-Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhor, Bondowoso
10.Al-Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi
11.Al-Habib Ahmad bin Muchsin Al-Hadar, Bangil
Setelah usia mencapai 20 tahun Al-Habib Ali menikah dengan Hababah Aisyah keluarga Al-Saqqaf dari Banjarmasin. Pada tahun 1311 H., berangkat Ke Mekah untuk menunaikan ibadah Haji serta menuntut ilmu kepada :
1.Syech Muhammad Said Babshil
2.Al-Habib Umar bin Muhammad Syatha’
3.Musyaikh Umar bin Abi Bakar Bajunaid
4.Al-Habib Abdullah bin Muhammad Sholih Al-Zawawi
5.Syekh Umar Hamdan Al-Maghribi
Di Kota Madinah Al-Munawwaroh belajar kepada : Habib Ali bin Ali Alhabsyi, Habib Abdullah Jamalullail ( Syekh Al-Asaadah ) dan Syekh Sulaiman bin Muhammad Al-Azab, anak dari pengarang kitab Maulid Azab.
Harumnya nama Al-Habib Ali menjadi pembicaraan ramai. Kemasyhurannya tersebut sampai dibuatkan syair oleh beberapa pujangga di antaranya : Al-Habib Muhamnmad Al-Muhdor, Sayyid Ahmad Assaqaf, Syekh Fadhil Irfan, Soleh bin Ali Al-Hamid, Toha bin Abu Bakar Assaqaf dan Syekh Yusuf bin Ismail Al-Nabhani pun memasukkan nama Habib Ali dalam kitabnya yang bernama Jami’ Karamat Al-Auliya juz 2 halaman 362.
Al-habib Ali bin Abdurahman Al-Habsyi wafat pada hari Minggu 20 Rajab 1388 H. bertepatan tanggal 13 Oktober 1968 M. dalam usia 102 tahun di makamkan di Masjid Arriyadh yang dipimpinnya sejak ia masih muda, ribuan orang berbondong-bondong melakukan takziah ke kediamannya di Kwitang, Jakarta Pusat, yang sekaligus menjadi majelis ta’lim tempat ia mengajar.
Sumber dari Buku Menelusuri Silisilah Suci Bani Alawi–Idrus Alwi Almasyhur

Kamis, 26 Mei 2011

Syekh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad r.a.




Syekh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad, atau Abah Sepuh, pendiri Pesantren Suryalaya. Sebuah pesantren tasawuf yang khusus mengajarkan Thariqat Qadiriyyah Naqsabandiyah (TQN).

Ia memasuki bangku sekolah dasar (Vervooleg school) di Ciamis, pada usia 8 tahun. Lima tahun kemudian melanjutkan ke madrasah tsanawiyah di kota yang sama. Usai tsanawiyah, barulah ia belajar ilmu agama Islam, secara lebih khusus di berbagai pesantren.

Ia keluar masuk berbagai macam pesantren yang ada di sekitar Jawa Barat seperti, Pesantren Cicariang dan Pesantren Jambudwipa di Cianjur untuk ilmu-ilmu alat dan ushuluddin. Sedangkan di Pesantren Cireungas, ia juga belajar ilmu silat. Minatnya untuk belajar silat diperdalam ke Pesantren Citengah yang dipimpin oleh Haji Djunaedi yang terkenal ahli “alat”, jago silat dan ahli hikmat.

Kegemarannya menuntut ilmu, menyebabkan Abah Anom menguasai berbagai macam ilmu keislaman pada usia relatif muda (18 tahun). Didukung dengan ketertarikannya pada dunia pesantren, telah mendorong ayahnya yang dedengkot Thoriqot Qadiriyah Naqsabandiyah (TQN) untuk mengajarinya dzikir TQN. Sehingga ia menjadi wakil talqin ayahnya pada usia relatif muda.

Mungkin sejak itulah, ia lebih di kenal dengan sebutan Abah Anom. Ia resmi menjadi mursyid (pembimbing) TQN di Pesantren tasawuf itu sejak tahun 1950. Sebuah masa yang rawan dengan berbagai kekerasan bersenjata antar berbagai kelompok yang ada di masyarakat, terutama antara DI/TII melawan TNI.

“Tasawuf tidak hanya produk asli Islam, tapi ia telah berhasil mengembalikan umat Islam kepada keaslian agamanya pada kurun-kurun tertentu,” tegas Abah Anom, tentang eksistensi tasawuf dalam ajaran Islam.

Tasawuf yang dipahami Abah Anom, bukanlah kebanyakan tasawuf yang cenderung mengabaikan syari’ah karena mengutamakan dhauq (rasa). Menurutnya, sufi dan pengamal tarekat tidak boleh meninggalkan ilmu syari’ah atau ilmu fiqih. Bahkan, menurutnya lagi, ilmu syari’ah adalah jalan menuju ma’rifat.

Ia, sebagaimana lazimnya sosok sufi, tak ingin terkenal. “Ia amat sulit untuk diwawancarai wartawan, karena beliau tak ingin dikenal orang,” ungkap Ustadz Wahfiudin, mubaligh Jakarta yang menjadi salah seorang muridnya.

Kendati demikian, ia bukanlah sosok sufi yang lari ke hutan-hutan dan gunung-gunung, seperti legenda sufi yang sering mampir ke telinga kita. Yang hidup untuk dirinya sendiri, dan menuding masyarakat sebagai musuh yang menghalangi dirinya dari Allah swt. Ia akrab dengan berbagai medan kehidupan, mulai dari pertanian sampai pertempuran.

Pada tahun 50-60-an kondisi perekonomian rakyat amat mengkhawatirkan. Abah Anom turun sebagai pelopor pemberdayaan ekonomi umat. Ia aktif membangun irigasi untuk mengatur pertanian, juga pembangunan kincir angin untuk pembangkit tenaga listrik.

Bahkan Abah Anom membuat semacam program swasembada beras di kalangan masyarakat Jawa Barat untuk mengantisipasi krisis pangan. Aktivitas ini telah memaksa Menteri Kesejahteraan Rakyat Suprayogi dan Jendral A. H. Nasution untuk berkunjung dan meninjau aktifitas itu di Pesantren Suryalaya.

Medan pertempuran bukanlah wilayah asing bagi Abah Anom. Pada masa-masa perang kemerdekaan, bersama Brig. Jend. Akil bahu-membahu memulihkan keamanan dan ketertiban di wilayahnya. Ketika pemberontakan PKI meletus (1965), ia bersama para santrinya melakukan perlawanan bersenjata.

Bahkan tidak hanya sampai di situ, Abah Anom membuat program “rehabilitasi ruhani” bagi para mantan PKI. Tak heran, jika Abah mendapat berbagai penghargaan dari Jawatan Rohani Islam Kodam VI Siliwangi, Gubernur Jawa Barat dan instansi lainnya.

Medan pendidikan juga tak luput dari ruang aktivitasnya. Mulai dari pendirian Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah ‘Aliyah pada tahun 1977, sampai pendirian Institut Agama Islam Latifah Mubarokiyah pada tahun 1986.

Kiprahnya yang utuh di berbagai bidang kehidupan manusia, ternyata berawal dari pemahamannya tentang makna zuhud. Jika kebanyakan kaum sufi berpendapat zuhud adalah meninggalkan dunia, yang berdampak pada kemunduran umat Islam. Maka menurut pendapat Abah Anom,

“Zuhud adalah qasr al-’amal artinya, pendek angan-angan, tidak banyak mengkhayal dan bersikap realistis. Jadi zuhud bukan berarti makan ala kadarnya dan berpakaian compang camping.”

Abah merujuk pada surat An-Nur ayat 37 yaitu, “Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah dan dari mendirikan shalat, (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati menjadi guncang.”

Jadi, menurut beliau seorang yang zuhud adalah orang yang mampu mengendalikan harta kekayaannya untuk menjadi pelayannya, sedangkan ia sendiri dapat berkhidmat kepada Allah swt semata. Atau seperti dikatakan Syekh Abdul Qadir Jailani,

“Dudukkanlah dirimu bersama kehidupan duniawi, sedangkan kalbumu bersama kehidupan akhirat, dan rasamu bersama Rabbmu.”

Inabah

Mengentaskan manusia dari limbah kenistaan bukanlah perkara mudah. Abah Anom memiliki landasan teoritis yang kuat untuk merumuskan metode penyembuhan ruhani, semuanya ada dalam nama pesantren itu sendiri yaitu, Inabah.

Abah Anom menjadikan Inabah tidak hanya sekedar nama bagi pesantrennya, tapi lebih dari itu, ia adalah landasan teoritis untuk membebaskan pasien dari gangguan kejiwaan karena ketergantungan terhadap obat-obat terlarang. Dalam kacamata tasawuf, ia adalah nama sebuah peringkat ruhani (maqam), yang harus dilalui seorang sufi dalam perjalanan ruhani menuju Allah swt.

“..Salah satu hasil dari muraqabatullah adalah al-inabah yang maknanya kembali dari maksiat menuju kepada ketaatan kepada Allah swt karena merasa malu ‘melihat’ Allah,” jelas Abah yang merujuk pada kitab Taharat Al-Qulub.

Dalam teori inabah, untuk menancapkan iman dalam qalbu, tak ada cara lain kecuali dengan dzikir laa ilaha ilallah, cara ini di kalangan TQN disebut talqin. Demikian juga dalam mesikapi mereka yang dirawat di pesantren Inabah. Mereka harus diberikan ‘pedang’ untuk menghalau musuh-musuh di dalam hati mereka, pedang itu adalah dzikrullah.

Orang-orang yang dirawat di Inabah diperlakukan seperti orang yang terkena penyakit hati, yang terjebak dalam kesulitan, kebingungan dan kesedihan. Mereka telah dilalaikan dan disesatkan setan sehingga tak mampu lagi berdzikir pada-Nya. Ibarat orang yang tak memiliki senjata lagi menghadapi musuh-musuhnya. Walhasil, obat untuk mereka adalah dzikir.

Shalat adalah salah satu bentuk dzikir. Menurut pandangan Abah Anom, para pasien itu belum dapat shalat karena masih dalam keadaan mabuk (sukara), karena itu langkah awalnya adalah menyadarkan mereka dari keadaan mabuk dengan mandi junub. Apalagi sifat pemabuk adalah ghadab (pemarah), yang merupakan perbuatan syaithan yang terbuat dari api. Obatnya tiada lain kecuali air.

Jadi, selain dzikir dan shalat, untuk menyembuhkan para pasien itu digunakan metode wudlu dan mandi junub. Perpaduan kedua metode itu sampai kini tetap digunakan Abah Anom untuk mengobati para pasiennya dari yang paling ringan sampai yang paling berat, dan cukup berhasil. Buktinya, cabang Inabah tak hanya di Indonesia, di Singapura langsung berdiri sebuah cabang serta Malaysia dua buah cabang. Belum lagi tamu-tamu yang mengalir dari berbagai benua seperti Afrika, Eropa dan Amerika.

Senin, 28 Februari 2011

K.H. Abdurrahman Wahid

Gus Dus – K.H. Abdurrahman Wahid, mantan Presiden RI ke-4 meninggal dunia hari ini di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta, 30 Desember 2009 (69 tahun):












Biodata:
  • Nama: Abdulrahman Wahid (lahir dengan nama Abdurrahman Addakhil yang berarti ‘sang penakluk, sang pendobrak’.
  • Lahir: 7 September 1940 (4 Sya’ban = kalender Islam) 1940
  • Tempat Lahir: Jombang – Jawa Timur
  • Kakeknya: K.H. Hasyim Ashari (Pendiri NU)
  • Ayah: K.H. Wahid Hasyim (menteri Agama 1949)
  • Ibu: Solichah
  • Istri: Shinta Nuriyah
  • Anak: 1. Alissa Qotrunnada, 2. Zannuba Arrifah Chafsoh (Yenny), 3. Anita Hayatunnufus, 4. Inayah Wulandari
Gus Dur pernah mengaku sebagai seorang keturunan Tionghoa. Dia mengaku sebagai keturunan Tan Kim Han yang menikahi Tan A Lok seorang saudara kandung Tan Eng Hwa (Raden Patah)  pendiri Kesultanan Demak. Tan A Lok dan Tan Eng Hwa adalah keturunan putri Tiongkok – Putri Campa – yang menjadi selir Raden Brawijaya-V, sementara Tan Kim Han adalah Syekh Abdul Qodir Al-Shini (berdasarkan penelitian ahli Perancis bernama Louis – Charles Damais). 
Pendidikan:
  • SD: 1949, SD KRIS, pindah ke SD Matraman Perwari
  • SMP: 1954, tidak lulus, dipindahkan ke Jogjakarta, lulus SMP 1957.
  • Pesantren: 1957, Pendidikan Muslim di Pesantren Tegalrejo Magelang. Sebagai murid berbakat dan lulus dalam 2 tahun (normal 4 tahun).
  • Pesantren: 1959, Pesantren Tambakberas – Jombang.
  • Universitas: Nop. 1963, beasiswa dari Kementrian Agama, kuliah di Universitas Al Azhar – Kairo, Mesir (Kelas remedial bahasa Arab). 1965 menolak metode belajar di universitas. 1966 harus mengulang belajar di Universitas Al Azhar.
  • Universitas: 1966, beasiswa ke Universitas Baghdad di Turki. Selesai kuliah tahun 1970.
  • Universitas: 1970, melanjut ke Universitas Leiden – Belandan. Merasa kecewa karena Universitas Baghdad tidak diakui lalu berlanjut ke Jerman dan Perancis dan kembali ke Indonesia tahun 1971.
Kegiatan dan Karir:
  • 1959 memulai karir sebagai guru dan kemudian menjadi Kepala Sekolah Madrasah.
  • Sebagai Jurnalis Majalah Horizon dan Budaya Jaya
  • 1964, Aktif dalam Asosiasi Pelajar Indonesia di Mesir.
  • 1965, dipercaya untuk melakukan investigasi terhadap pelajar universitas untuk pandangan politik, dan diminta untuk menyusun laporannya.
  • 1966, Aktif dalam Asosiasi Pelajar Indonesia di Baghdad dan juga menulis di majalah Asosiasi Pelajar.
  • 1971, bergabung dengan Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES). Kontributor utama Majalah Prisma yang didirikan oleh LP3ES.
  • Jurnalis di Majalah Tempo dan koran Kompas, sambil mencari tambahan penghasilan dengan berjualan kacang dan membantu bisnis istri berjualan Es-lilin.
  • 1974, mendapat pekerjaan tambahan sebagai guru pesantren di Pesantren Tambakberas – Jombang. Kemudian meningkat menjadi guru Kitab Al Hikam.
  • 1977, bergabung dengan Universitas Hasyim Ashari sebagai Dekan Fakultas Praktek dan Kepercayaan Islam.
  • Bergabung sebagai Dewan Penasehat Agama NU.
  • 1982, Aktif berkampanye pada Pemilu Legislatif untuk PPP (Partai Persatuan Pembangunan). Tahun ini turut mereformasi keorganisasian NU.
  • 1983, Menyimpulkan bahwa NU harus menerima Pancasila sebagai Ideologi Negara.
  • 1984, terpilih sebagai Ketua NU.
  • 1987, menjadi Anggota MPR mewakili Golkar.
  • 1991, menolak masuk oraganisasi ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) uang diketuai oleh BJ. Hbibie, termasuk didalamnya Amien Rais dan Nurcholis Madjid, sebagai dukungan terhadap Soeharto (Presiden-RI ke-2), dan menuduh organisasi ini sebagai ‘sektarianisme’.
  • 1991, mendirikan Forum Demokrasi sebagai tandingan ICMI. Forum ini sering dihalang-halangi oleh rezim Soeharto menjelang Pemilu Legislatif 1992.
  • 1994, menerima kunjungan kontoversial ke Israel.
  • 1994, menjelang Munas NU, rezim Soeharto melalui Habibie dan Harmoko menghalang-halangi terpilihnya kembali sebagai Ketua NU untuk ketiga kalinya.
  • 1998, menyetujui pembentukan partai baru oleh NU yaitu PKB (Partai Kengangkitan Bangsa) dan menjabat sebagai Ketua Dewan Penasehat.
  • 1999, 20 Oktober, terpilih sebagai Presiden RI ke-4 s/d 23 Juli 2001.
  • 2000, melakukan kunjungan luar negeri ke Swiss, Arab Saudi, Inggris, Prancis (2), Belanda, Jerman, Italia, India, Korea Selatan, Thailand, Brunei Darussalam, Timor Leste, Afrika Selatan, Kuba, Meksiko, Hong Kong, Amerika, Jepang, Iran, Pakistan, Mesir.
  • 2000,  Hubungan Gus Dur dengan TNI memburuk karena TNI mempersenjatai Laskar Jihad untuk membantu kaum Muslim yang bertikai dengan kaum Kristen di Maluku.
  • 2000, September – Gus Dur menyatakan ‘Darurat Militer’ di Maluku karena situasi semakin memburuk karena Laskar Jihad dipersenjatai oleh TNI dan dicurigai didanai oleh Fuad Bawazir.
  • 2000, September – Gus Dur membuat pernyataan diperbolehkan Bendera Bintang Kejora (Irian Jaya – Papua Merdeka) dikibarkan asal dibawah bendera Merah Putih. Akibatnya banyak tekanan politik kepada Gus Dur.
  • 2000, Nopember – 151 DPR menandatangani petisi sebagai ‘impeachment’ terhadap Gus Dur.
  • 2000, 24 Desember – terjadilah pemboman gereja-gereja di Jakarta dan delapan kota-kota di Indonesia.
  • 2000, juga terjadi Buloggate yang melibatkan $4 juta menghilang dari kas Bulog, yang dituduhkan bahwa ‘tukang pijit’ disuruh Gus Dur mengambil uang ke Bulog.
  • 2000, juga terjadi Bruneigate yang melibatkan $2 juta merupakan sumbangan Sultan Brunei yang dituduhkan disimpannya sendiri.
  • 2001, Januari – mengumumkan Tahun Baru Cina (Imlek) menjadi hari libut, dan mencabut larangan penggunaan huruf Tionghoa.
  • 2001, mengusulkan agar TAP MPRS No. XXIX/MPR/1966 yang melarang Marxisme-Leninisme dicabut. Issu oleh Duta Besar Palestina untuk Indonesia – Ribbhi Awad – bahwa ia berusaha membuka hubungan diplomat dengan Israel. Issu lain bahwa Gus Dur memiliki keanggotaan di Yayasan Shimon Peres (Israel).
  • 2001, berkunjung ke Afrika Utara, Arab Saudi (naik haji), terakhir ke Australia.
  • 2001, Gus Dur mencopot Mentri Kehakiman dan HAM – Yusril Ihza Mahendra karena membuat pernyataan agar Gus Dur mengundurkan diri. Gus Dur juga melakukan resuffle kabinet karena banyak konflik dengan para mentri di kabinet.
  • Menkopolsoskam Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menolak menyatakan ‘darurat militer’ desakan Gus Dur sehingga ia diberhentikan dari jabatannya.
  • 2001, 20 Juli – Amien Rais menyatakan diadakannya Sidang Istimewa MPR untuk tujuan Gus Dur mundur diri.
  • 40.000 pasukan TNI beserta dengan tank menuju ke Istana Presiden untuk unjuk kekuatan.
  • Gus Dur mengeluarkan ‘dekrit’ presiden berisi 1. Pembubaran MPR, 1. Mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat dan mempercepat diadakannya pemilu dalam waktu satu tahun, 3. Pembekuan Golkar.
  • 2001, 23 Juli – MPR menjatuhkan Impeachment dan menggantikan Gus Dur dengan Megawati Soekarno Putri sebagai presiden pengganti.
  • 2001, 25 Juli – Gus Dur berangkat ke Amerika Serikat untuk berobat.
  • 2004, gagal sebagai calon presiden dukungan PKB karena alasan kesehatan. Akhirnya SBY-JK menjadi presiden dan wakil presiden dalam pemilihan langsung.
  • 2005, sebagai salah satu pemimpin koalisi (Gus Dur, Try Sutrisno, Wiranto, Akbar Tanjung, Megawati) menentang kebijakan-kebijakan fundamental SBY seperti kenaikan BBM.
Penghargaan-penghargaan beliau :
  1. 1993, Community Leadership – Ramon Magsaysay Award.
  2. 2004, 10 Maret – ‘Bapak Tionghoa’ oleh tokoh-tokoh Tionghoa Semarang dari klenteng Kay Tak Sie, Gang Lombok – Pecinan – Semarang.
  3. 2006, 11 Agustus – Pejuang Kebebasan Pers 2006 oleh Aliansi Jurnalistis Independen (AJI – Tasrif Award).
  4. Simon Wiethemthal Center – bergerak dibidang Penegakan Hak Azasi Manusia.
  5. Mebal Valor – Los Angeles, Pembela Kaum Minoritas (Konghucu Indonesia).
  6. Universitas Temple – penyematan namanya pada kelompok study ‘Abdurrahman Wahid Chair of Islamic Study’
Gelar Kehormatan:
  1. Doktor Kehormatan bidang Filsafat Hukum dari Thammasat University, Bangkok, Thailand (2000).
  2. Doktor Kehormatan dari Asian Institute of Technology, Bangkok, Thailand (2000).
  3. Doktor Kehormatan bidang Ilmu Hukum dan Politik, Ilmu Ekonomi dan Manajemen, dan Ilmu Humaniora dari Pantheon Sorborne University, Paris, Perancis (2000).
  4. Doktor Kehormatan dari Chulalongkorn University, Bangkok, Thailand (2000).Doktor Kehormatan dari Twente University, Belanda (2000).
  5. Doktor Kehormatan dari Jawaharlal Nehru University, India (2000).
  6. Doktor Kehormatan dari Soka Gokkai University, Tokyo, Jepang (2002).
  7. Doktor Kehormatan bidang Kemanusiaan dari Netanya University, Israel (2003).
  8. Doktor Kehormatan bidang Hukum dari Konkuk University, Korea Selatan (2003).
  9. Doktor Kehormatan dari Sun Moon University, Korea Selatan (2003).
Selamat jalan Gus Dur – Pejuang Agama, Pejuang Reformasi, Pejuang Demokrasi – seorang Negarawan dan Kusuma Bangsa.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More