Kamis, 26 Mei 2011

TAWAJJUH & TALKIN DZIKIR




Tawajjuh (menghadapkan diri kepada Allah SWT) terjadi dalam Dzikir Sirri. Dzikir Sirri dilakukan dengan menundukkan kepala dalam-dalam, arahkan ke titik lathifah qalbi di bawah puting susu kiri, memejamkan mata, mengatupkan bibir (kalau perlu lidah pun dilipat ke langit-langit atas agar tak ikut bergetar), lalu rasakan asma Allah menelusup masuk ke qalbu.
Apabila sebelumnya telah melakukan Dzikir Jahri dengan tepat maka pada saat Dzikir Sirri di qalbu akan ada rasa:
* Rasa terbakar, kehangatan yang menjalar dari api cinta dan rindu kepada Allah SWT.
* Rasa tenggelam, terhanyut dalam lautan rahmat Allah SWT, terengkuh dalam pelukan qudrat-Nya dan tertimang dalam buaian iradat-Nya.
* Rasa terguncang, terguncangnya jiwa dan raga oleh getaran qalbu yang berdzikir mengingat Allah (QS. Al-Anfal 8:2).
* Puncaknya adalah air mata kebahagiaan yang mengalir dari taman taqwa di dalam qalbu.

Burung terbang dengan dua sayap...
Ruh melayang dengan dua dzikir: jahri dan sirri


Talqîn Dzikir
Sebagai persiapan untuk dapat berdzikir dengan baik, qalbu dan lathifah-lathifah yang menjadi sensornya harus mengalami tune up atau initiation lebih dulu. Semua perangkat itu harus menjalani proses aktifasi lebih dulu. Itulah yang disebut dengan talqin dzikir.

* Berasal dari kata laqqana (membelajarkan), maka talqiynâ (pembelajaran).
* Talqin Dzikir = Pembelajaran Dzikir:
o Proses ruhaniyah
o Menanamkan bibit dzikir ke dalam qalbu murid
o Menghubungkan qalbu murid dengan qalbu mursyid agar masuk dalam pantauannya.
* Dilakukan oleh wali mursyid (wali pembimbing) yang:
o Taqwa
o Qalbunya dawâm (ajeg) dalam dzikrullah,
o Kuat dalam tawhid,
o Tercahayai oleh nur ilahi.
* Talqin Dzikir dapat mursyid lakukan melalui wakil talqin.

Cermin yang jernih tak perlu sapuan lap,
Qalbu yang jernih tak peduli ucapan lafazh...

Kalau dzikir hanya sebatas mulut,
Bukankah burung beo peniru nomor satu?
Alla…hu, Huwa…, Hu…


Bagaimana cara menghidupkan qalbu? Bagaimana cara menghunjamkan dzikir jahri dari mulut agar tembus menjadi dzikir sirri di dalam qalbu?

“…maka bertanyalah kepada ahli dzikir (bukan ahli fikir! - pen.) jika kamu tidak mengetahui.”
(QS. 16:43)

Ada banyak metode (thariqah) yang digunakan para ahli dzikir, diantaranya metode Qadiriyah Naqsyabandiyah Suryalaya:

1. Gunakan Dzikir Utama berulang-ulang
2. Lewatkan titik-titik lathifah (sensor) untuk menghunjam masuk ke dalam qalbu
3. Sertakan hentakan/tekanan (dharban) yang kuat
4. Rasakan jangan fikirkan

Titik Sensor (Lathifah)
Dzikir Jahri yang diucapkan dengan mulut harus ditembuskan ke pusat ruh yaitu Qalbu, kalau tidak ia hanya akan menjadi gelombang-gelombang suara yang lepas mengembara di angkasa tanpa menembus alam lâhût dan `arasy Allah. Untuk menembuskannya, saat mulut melafazhkan kalimat Lâ-ilâha-illa-llâh kita jalarkan kalimat tersebut pada titik-titik lathifah/sensor:

1. Lathifah Qalbi
2. Lathifah Ruhi
3. Lathifah Sirri
4. Lathifah Khafiy
5. Lathifah Akhfa
6. Lathifah Nafs
7. Lathifah Qalabi

Pengucapan kalimat Lâ-ilâha-illa-llâh dilakukan dengan suara tegas, dirasakan / dijalarkan dari bawah pusar keatas hingga ubun-ubun, lalu ke sebelah kanan dari titik 2 jari di atas puting susu ke arah titik 2 jari dibawah putting susu, lalu ke sebelah kiri dari titik 2 jari di atas putting susu dihunjamkan ke titik 2 jari di bawah putting susu kiri. Penjalaran dzikir ini diarahkan dengan gerakan kepala ke atas, lalu ke kanan dan ke kiri.

Semua itu dilakukan dengan tekanan/ hentakan yang kuat (dharban) kedalam tubuh hingga terasakan kedalam ruh/jiwa orang yang melakukannya. Lakukan itu berulang-ulang, sebanyak-banyaknya, sehingga terbentuk apa yang disebut the magical power of repetition.

“…dzikirkan olehmu Allah sebanyak-banyaknya.”
(QS. 33:41)

Dalam melakukannya jangan gunakan fikiran, tapi gunakan rasa, karena berdzikir memang bukan berfikir. Allah swt tegas membedakan dzikir dengan fikir di dalam QS. Ali Imran 3:191. Sekali lagi: rasakan, jangan fikirkan!

Manakala dzawq (rasa) di dalam qalbu telah dapat merasakan iman tawhid maka Dzikir Jahri boleh dihentikan dan diganti dengan Dzikir Sirri.

Kadang orang masih penasaran bertanya, sebanyak-banyaknya itu berapa kali? Para ulama dzikir menyatakan sekurang-kurangnya 5 x 33 alias 165 kali. Orang sudah biasa berdzikir 33 kali, lakukanlah Dzikir Jahri ini 5 kali lipatnya sehingga menjadi 165.

Apakah harus tepat sejumlah itu? Tidak harus! The more the better (makin banyak, ya makin baik). Ibarat orang mengaduk adonan kue/roti, adukan itu harus mencukupi hingga adonan mengembang, lalu dibakar di oven. Kalau adukan kurang memadai dan adonan belum mengembang lalu langsung dibakar dengan oven apa jadinya? Bantat. Begitu pula dzikir. Kalau Dzikir Jahri kurang kuat tekanannya, atau kurang banyak pengulangannya, maka ia belum sampai menembus dan menggetarkan qalbu. Kalau langsung dihentikan maka Dzikir Sirri belum terbentuk di qalbu, akibatnya qalbu belum terhubung ke Allah SWT, nikmat dan manfaat dzikir pun tidak tercapai.

Muncul pula pertanyaan mengapa pengarahan jalaran dzikir itu menggunakan gerakan kepala ke atas, ke kanan, lalu ke kiri? Ulama dzikir dalam istinbatnya menarik hikmah dari ayat:

Iblis: “Lalu akan aku datangi manusia dari hadapan mereka, dan dari belakang mereka, dan dari kanan mereka, dan dari kiri mereka…”
(QS. 7:17)

Gerakan dzikir ke atas maksudnya untuk menepiskan iblis yang menyerang dari depan dan belakang, gerakan dzikir ke kanan dan ke kiri untuk menepiskan iblis yang ada di kanan dan kiri.

Ada banyak lafazh dzikir seperti: subhânallâh, alhamdulillâh, allâhuakbar dan lain-lain. Namun menurut Rasulullah s.a.w.:

Dzikir yang paling utama adalah: Lâ-ilâha-illa-llâh
(HR. Ahmad)

Dzikir ini diawali dengan penafian (lâ-ilâha):
- tiada tuhan
- tiada yang didamba
- tiada yang diharap
- tiada yang dicintai
- tiada yang sembah
- tiada yang dipuja
- tiada yang dimuliakan
- tiada yang dijadikan tempat bergantung
- tiada yang disegala-galakan...

lalu disambung dengan peneguhan (illa-llâh):
- kecuali Allah
- hanya Dia

Dengan penafiannya dzikir ini membersihkan manusia dari segala bentuk ‘ketuhanan’ palsu, dengan peneguhannya dzikir ini memantapkan iman di dalam qalbu. Iman yang fluktuatif, selalu naik dan turun, perlu selalu diperbarui sebagaimana kata Rasulullah saw:

Rasulullah s.a.w: “Perbaharuilah selalu imanmu”.
Dikatakan: “Bagaimana kami memperbaharui iman kami?”
Rasul: “Dengan memperbanyak ucapan Lâ-ilâha-illallâh”
(HR. Ahmad)

Pengertian Dzikir

Dzikir berasal dari kata dzakara yang bisa bermakna:

* menyebut-nyebut (dengan mulut); atau
* mengingat, mengenang, merasakan, menghayati (dengan qalbu).

Dzikir Jahri (nyata) dan Dzikir Sirri (rahasia)

“Dan rahasiakanlah (sirri) perkataanmu atau nyatakanlah (jahri); sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang bergejolak di dalam dada”
(QS. 67:13)

Dzikir Jahri dilakukan mulut dengan menyebut-nyebut bacaan (lafazh):

* Istighfar
* Tasbih
* Tahmid
* Tahlil
* Takbir
* dan lain-lain ayat al-Qur’an atau wirid

Karenanya Dzikir Jahri nyata terdengar suaranya dan nyata terlihat getar bibir mengucapkannya. Bila dilakukan berjamaah suara Dzikir Jahri kadang menggemuruh menimbulkan rasa mencengkam dan rendah di hadapan Allah.

Sesungguhnya bergemuruhnya suara orang berdzikir saat usai shalat fardhu betul-betul terjadi di masa Rasulullah s.a.w. Aku dapat mengetahui orang sudah usai shalat (berjamaah di masjid Nabi) ketika kudengar suara dzikir itu.
(H.S. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan Ahmad).

Dzikir Sirri tidak menggunakan mulut, melainkan dzawq (perasaan) dan syu`ûr (kesadaran) yang ada di dalam qalbu. Karenanya dzikir ini menjadi tersamar (khafiy) dan hanya pelaku serta Allah s.w.t. saja yang dapat mengetahuinya.

Dalam Dzikir Sirri orang mengingat Allah, merasakan kehadiran Allah, menyadari keberadaan Allah. Di dalam qalbunya tumbuh rasa cinta, rasa rindu kepada Allah, rasa dekat, bersahabat, seakan melihat Allah. Itulah ihsân, dimana dalam ibadahmu kamu merasa melihat Allah, atau setidaknya merasa sedang dilihat oleh Allah s.w.t. Inilah dzikir yang hakiki, sebab hubungan manusia dengan Allah swt tidak terjadi dengan tubuh jasmaninya melainkan dengan qalbunya.

"Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah berhubungan dengan manusia melalui qalbunya".
(QS. 8:24)

Saat melakukan dzikir sirri orang mengaktifkan qalbunya mengingat Allah sehingga dirinya on-line (tersambung, wushûl) dengan Allah. Saat itulah terjadi penyerapan nûr ilâhi (divine light) kedalam qalbu sehingga terjadi proses pencerahan (enlightenment).

Nur ilahi yang menembus qalbu akan terpantulkan ke otak yang menjadi pusat kendali tubuh manusia. Mekanisme biokimia dan bioelektrik pada sel-sel otak akan dikendalikan oleh nur ilahi sehingga menimbulkan gelombang-gelombang alpha yang menenteramkan saraf, membangkitkan kreatifitas sekaligus rasa cinta ke sekujur tubuh; menepis rasa takut dan cemas; mengganti kekecewaan dengan harapan, kemarahan dengan kedamaian, malas dengan semangat.

Tersingkaplah tirai kebodohan (kasysyâf), terbukalah wawasan baru, hadir di hadapan taman kehidupan taqwa yang penuh pelangi mahabbah diharumi semerbak ridha ilahi.

Nûr ilâhi mengandung:

* Enerji Maghfirah, yang membakar hangus dosa-dosa di qalbu, menepis sesal, menjungkal kecewa dan malas.
* Enerji Himmah, kemauan kuat yang mendorong orang bekerja keras (work hard) penuh semangat.
* Enerji Hidâyah, petunjuk dan inspirasi kreatif yang mendorong orang bekerja dengan cerdas (work smart).
* Enerji Rahmah, enerji cinta yang mendorong orang bekerja bersama dengan dengan tulus ikhlas (work heart) tanpa pamrih, terbebas dari nista moral.
* Enerji Barâkah, semangat kemulian dan harga diri, kemantapan pribadi yang tangguh mengendalikan hawa nafsu dan godaan iblis.

Maka jangan puas hanya dengan dzikir mulut, tembuskan dzikir kedalam qalbu, getarkan qalbu dengan rasa rindu kepada Allah, getaran yang juga menggoncang sel-sel kelenjar hormon untuk aktif menjaga keseimbangan hormon di dalam tubuh. Hormon adalah pengendali metabolisme tubuh. Dengan dzikir sirri metabolisme akan berjalan lancar alamiah menimbulkan kehangatan dan daya tahan tubuh (immune) terhadap berbagai penyakit.

Hidupkan Qalbu dengan Dzikir Sirri

Menangis Saat Berdzikir

Menangis Saat Berdzikir
by = Ust Wahfiudin

Nikmat sekali kalau kita sedang berzikir bisa menangis. Air mata yang hangat serasa mengalir membasahi dada dan qalbu yang gersang, mencairkan kebekuan perasaan yang sudah jauh dari Allah. Kita pun ikut terguncang jiwa ketika menyaksikan orang yang berdzikir tesedu-sedu. Tetapi sayangnya tangis dan air mata itu tak selalu bisa mengalir keluar. Kadang sudah kita upayakan pun belum mau juga keluar. Apakah karena qalbu kita sudah beku? Atau sudah kebal sehingga gak mempan lagi? Tapi mengapa kegelisahan pun ikut hilang?

Sahabat Abu Bakar ra dikenal sebagai orang yang mudah menangis dalam dzikir dan shalat. Ketika mendengar Nabi menyampaikan ayat tentang telah sempurnya agama Allah diturunkan, beliau tahu masa kerasulan akan segera berakhir, beliau menangis.

Tangis dan air mata
Eskpresi gejolak emosional yang sangat dahsyat, bisa karena kedukaan maupun keriangan. Disertai rona wajah yang memerah, sesenggukan nafas, guncangan pada tubuh bagian atas.

Tangis adalah saluran gejolak emosinal yang sangat rumit, ketika kata-kata tak lagi mampu menampungnya, tangis pun cara tercepat untuk mengembalikan keseimbangan emosional setelah mengalami guncangan yang keras.

* Ada karena taubat, rasa sesal.
* Ada karena kelemahan mental, cengeng.
* Ada juga karena faktor kelenjar air mata.

Ada beberapa kemungkinan orang tak menangis (lagi) dalam dzikir:

* Orang itu memang sudah beku betul perasaannya.
* Tangis sudah tergantikan dengan ketenteraman.
* Mengalalami proses kekebalan, jenuh.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Alhamdulillah, terimakasih banyak saya bisa mendapatkan artikel ini

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More