Masterpiece: Emha Ainun Nadjib **
Kepada engkau yang menyimpan kesengsaraan
dalam kebisuan. Kepada engkau yang menangisdalam bathin karena dikalahkan.Karena disingkirkan, diusir dan ditinggalkan.Atau karena sangat-sangat susah untuk ketemudengan yang namanya keadilan.Aku ingin bertemu ke lubuk hatimu.Untuk mengajakmu istirahat sejenak.Mengendapkan hati dan bernyanyi.Saudara-saudaraku sesama orang kecildi pinggir jalan. Sedulur-dulurku di dusun-dusundi kampung-kampung perkotaan.Karib-karibku di gang-gang kotor,di gubuk-gubuk tepi sungai yang darurat.Atau mungkin saudara-saudaraku di rumah-rumah besar,di kantor-kantor mewah namun memendam semacamkepedihan diam-diam.Aku ajak engkau semua untuk meraik napas sejenak,bersandar, membaringkan badan.Kuajak engkau menjernihkan pikiran, untuk menata hati.Menemukan kesalahan-kesalahan kita semua,untuk tidak kita ulangi lagi.Atau mengukuhkan kebenaran-kebenaranuntuk kita perjuangkan kembali.Ayolah saudara-saudaraku. Rileks.1996
**
Diketik ulang dari buku “Doa Mencabut Kutukan, Tarian Rembulan, Kenduri Cinta: Sebuah Trilogi Emha Ainun Nadjib, yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama Tahun 2001.
Singkat cerita, buku ini kubeli dari pasar buku Blok M, ketika aku dan Andri GS, rekan kerjaku di MC JKS mampir di Blok M, yang hendak pulang ke Cileungsi Bogor. Saat itu kami pulang dari Ciledug, dari kantor MC JKS Cabang Ciledug untuk proses Migrasi sistem MC JKS cabang Ciledug.
Hari sedang diguyur hujan lebat dan kami pulang kemalaman. Selepas Maghrib masih di Ciledug, menunggu bis yang ke Kampung Rambutan. Terlalu lama menunggu, terpaksa kami naik bis Kopaja yang menuju Blok M, dengan niat mau naik Busway. Dan itulah pengalaman pertama naik busway di Jakarta, keliling Jakarta, melewati Bunderan HI dengan patungnya, yang sering kulihat di TV, yang sering jadi tempat berkumpulnya para demonstran.
Kami sempat keliling-keliling dulu mengedari Blok M. Lalu menuju ke lantai dasar yang berdasarkan papan petunjuk di sana ada bursa buku. Semenjak kaki menuruni tangga, sudah nampaklah mataku menangkap jejeran kios buku di sana. Kuedarkan pandangan, dan bertemulah aku dengan kios yang memajangkan buku-buku sastra dan budaya. Kutilik lebih dekat, rupanya lebih banyak buku lama alias buku bekas.
Singgah disana, kutemukan buku “Catatan Subversif”-nya Mochtar Lubis, tapi kondisi bukunya sudah kusam dan bagiku dapat mengurangi minat membacanya, sehingga tak jadi kubeli. Lalu sewaktu kutengok ke rak atas, dapatlah buku ini, “Doa Mencabut Kutukan, Tarian Rembulan, Kenduri Cinta: Sebuah Trilogi Emha Ainun Nadjib. Dan di dalamnya, ada bait puisi “Rileks”, yang menyejukan kalbuku.


03.23
Luthfi Irama al-cherboni

Posted in: 

0 komentar:
Posting Komentar